Senin, 28 Februari 2011
Di Atas Meja
Diposting oleh angri saputra di 20.04 Senin, 28 Februari 2011Lelaki muda berpakaian seragam OB tampak berjalan menuju ruang kantor utama, tempat Pak Bos berkantor. Langkahnya pasti. Dia memegang amplop besar warna coklat. Begitu sampai di pintu yang terbuat dari kayu jati, dia menghela nafas.
Tok… Tok… Tok.
“Masuk!” seru suara dari dalam kantor sebagai jawaban dari ketukan di pintu.
Pintu terbuka dan masuklah si OB dengan tatapannya menumbuk pandangan si Bos. Senyum terkembang terlukis di wajah si Bos.
“Oh, Pardi. Silahkan duduk!” tawarnya manis dengan tangan membuka mempersilahkan OB yang bernama Pardi untuk duduk di depannya.
“Terima kasih, Pak Bos,” ucap Pardi dan dia berjalan mendekat. Tapi berhenti tepat di samping kursi empuk berkulit hitam.
“Loh, duduklah!” tawar Bos dengan lembut.
“Tidak, Pak. Saya berdiri saja,” tegas Pardi dan matanya melirik ke amplop kecil berwarna putih di atas meja.
“Ya, sudahlah!” seru si Bos sambil mengangkat bahu. “Kebetulan kamu datang. Padahal saya baru saja mau memanggilmu.”
“Berarti Pak Bos tak perlu lagi memanggil saya.”
Si Bos mengangguk. Lalu tangannya meraih amplop putih dan langsung menyodorkannya ke Pardi.
“Ambilah!” perintahnya.
“Buat apa Pak Bos?” tanya Pardi heran. Tapi tangannya sama sekali tak menyentuh amplop tersebut.
“Bonus karena pengabdianmu yang tinggi.”
Pardi tertawa kecil. “Pak Bos lupa, ya? Saya kan baru 1 bulan bekerja di sini.”
Si Bos terkejut. “Oh, saya pikir kamu sudah 1 tahun di sini. Tetapi tak apa-apa. Kamu ambil saja, anggap saja sebagai bonus karena kerjamu yang rajin.”
Kembali Pardi tertawa. “Pak Bos –Pak Bos. Sayang sekali, amplop putih yang tertutup ini begitu bersih, tetapi di dalamnya mungkin saja kotor dan bau.”
“Maksudmu apa?” marah si Bos.
“Hm, jika Pak Bos merasa saya akan tutup mulut setelah melihat kelakuan bejat kemarin sore dengan uang ini, maka Pak Bos salah besar. Tanpa Pak Bos minta pun, saya akan tutup mulut serapat-rapatnya,” jelas Pardi. Dia menarik nafas dan menghelanya. “Karena kedatangan saya kemari buat memberikan surat pengunduran diri!”
Si Bos berdiri. “Kamu lancang Pardi!” tunjuknya. “Beraninya kamu bicara seperti itu!”
“Siapa yang lancang di sini, Pak Bos?” senyum Pardi. “Tentu saja saya berani bicara dengan Pak Bos, yang sekarang bukan lagi Bos, saya.”
“Jadi kamu mau memeras saya?” geram si Bos.
“Untuk apa?” tanya Pardi lantang. “Saya bukan manusia yang mau memanfaatkan kesalahan orang lain. Saya hanya tak mau suatu hari nanti kembali melihat perbuat bejat seperti kemarin sore. DOSA! SALAH BESAR!”
Si Bos melotot. Pardi tersenyum dengan ramah, matanya lembut menatap Bos.
“Permisi, Bos, saya pergi!” seru Pardi ramah. Lalu berbalik, tapi hanya 3 langkah, dia kembali menghadap Bos. “Bos, maafkan saya jika lancang bicara seperti ini. Bertobatlah Bos! Kesenangan dunia hanya sesaat, kesenangan akhirat itu selamanya. Saya yakin Bos pasti mempunyai hati nurani, hingga tak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama.”
Pardi pun pergi meninggalkan si Bos yang duduk lemas di kursinya yang empuk. Begitu pintu tertutup, Bos menundukkan wajahnya. Isak tangis kecil terdengar. Lalu dia meraih HP-nya dan memencet sebuah nomor. Begitu tersambung.
“Bu, maafkan Bapak yang telah menodai ikatan suci kita.”
Label: Cerpen 0 komentar
Maafkan Aku Yang Menunggu Jawabanmu
Diposting oleh angri saputra di 19.58
Brak!
Pintu kamarku terbuka dengan menimbulkan suara keras. Aku yang sedang mengikat tanganku sambil menunduk, terkejut. Aku mendongak dan rasa kejutku bertambah. Di depan pintu dengan wajah marah berdiri Dila, gadis yang kucinta. Langkah kecilnya perlahan masuk dan tiba-tiba tangannya telah terukir manis di pipiku.
“Apa Mas belum puas menyakiti diri sendiri?” marah Dila sambil mengambil alat suntik dan melemparnya ke sudut kamar. “Pikir Mas!” Apa Mas tahu, kelakuan Mas ini telah menyakit hati Dila!”
“Maaf!” keluhku pelan.
“Maaf! Maaf saja gak cukup, Mas! Berhentilah! Dila memohon pada Mas, jika benar Mas menyayangi Dila? Mas jahat!”
Aku berdiri. “Bukankah selama ini Mas telah membuktikan kasih sayang itu pada Dila? Tapi Dila selalu menolak kehadiran Mas!” kerasku tak mau kalah.
“Kasih sayang apa?” isak Dila. “Mas hanya memberikan Dila materi. Tanpa Mas mau mengerjakan Ibadah. Dila butuh Imam bukan hanya sekedar harta!” serunya.
“Kenapa kamu tak katakan itu dari dulu?”
“Dulu! Sudah beratus kali Dila mengingatkan Mas akan hal itu. Tapi buktinya apa?” isak Dila mulai berkurang. “Mas lebih asyik berbohong dan sekarang baru Dila tahu, kalo Mas suka memakai obat terlarang.”
“Dila, Mas seperti ini karena telah lelah menunggu jawabanmu. Terus suasana keluarga Mas yang tak nyaman, membuat Mas lari.”
“Alasan kosong. Lari ke dalam pelukan Allah itu lebih baik, Mas. Bukan ke dalam alam mimpi yang dibuat oleh benda terlarang itu!” tunjuk Dila pada serbuk putih yang tercecer di kasur dan lantai.
“Maafkan Mas!”
“Hm, tak semudah itu. Berjanjilah pada Allah, Mas tak akan menyentuh barang haram ini lagi. Lalu segeralah mengerjakan segala amal ibadah Mas yang telah terbengkalai. Mungkin…”
“Mungkin apa?”
“Mungkin Mas benar-benar bisa menjadi Imam buat Dila,” jawab Dila tersenyum.
“Benarkah?”
“Ya! Asal Mas benar-benar bertobat dan belajar agama dengan tekun. Dila akan berikan Mas kesempatan lagi.”
Aku melompat kegirangan. Tanpa sadar aku meraih tangannya yang langsung ditariknya.
“Bukan muhrim, gak boleh!” jawabnya pelan.
Aku tersenyum. “Terus kok tadi tangan Dila mampir ke pipi Mas?”
Pipi Dila bersemu merah. “Maaf, Mas. Itu karena Dila begitu takut dan marah, hingga lepas kendali.”
“Takut kenapa dan marah kenapa?” kejarku.
“Takut Mas akan mati disebabkan benda terlarang itu. Kan, Mas belum jadi Imam buat Dila! Itu yang membuat Dila marah sama Mas,” terangnya.
Aku tertawa keras. Bahagia! Dila ingin aku jadi Imam baginya. Hm, saatnya bertobat dan melaksanakan Solat Asharku. Karena kebetulan Adzan telah masuk. Dila pun tersenyum senang, kala aku mengajaknya Solat bersama.
Oleh Angri
Pintu kamarku terbuka dengan menimbulkan suara keras. Aku yang sedang mengikat tanganku sambil menunduk, terkejut. Aku mendongak dan rasa kejutku bertambah. Di depan pintu dengan wajah marah berdiri Dila, gadis yang kucinta. Langkah kecilnya perlahan masuk dan tiba-tiba tangannya telah terukir manis di pipiku.
“Apa Mas belum puas menyakiti diri sendiri?” marah Dila sambil mengambil alat suntik dan melemparnya ke sudut kamar. “Pikir Mas!” Apa Mas tahu, kelakuan Mas ini telah menyakit hati Dila!”
“Maaf!” keluhku pelan.
“Maaf! Maaf saja gak cukup, Mas! Berhentilah! Dila memohon pada Mas, jika benar Mas menyayangi Dila? Mas jahat!”
Aku berdiri. “Bukankah selama ini Mas telah membuktikan kasih sayang itu pada Dila? Tapi Dila selalu menolak kehadiran Mas!” kerasku tak mau kalah.
“Kasih sayang apa?” isak Dila. “Mas hanya memberikan Dila materi. Tanpa Mas mau mengerjakan Ibadah. Dila butuh Imam bukan hanya sekedar harta!” serunya.
“Kenapa kamu tak katakan itu dari dulu?”
“Dulu! Sudah beratus kali Dila mengingatkan Mas akan hal itu. Tapi buktinya apa?” isak Dila mulai berkurang. “Mas lebih asyik berbohong dan sekarang baru Dila tahu, kalo Mas suka memakai obat terlarang.”
“Dila, Mas seperti ini karena telah lelah menunggu jawabanmu. Terus suasana keluarga Mas yang tak nyaman, membuat Mas lari.”
“Alasan kosong. Lari ke dalam pelukan Allah itu lebih baik, Mas. Bukan ke dalam alam mimpi yang dibuat oleh benda terlarang itu!” tunjuk Dila pada serbuk putih yang tercecer di kasur dan lantai.
“Maafkan Mas!”
“Hm, tak semudah itu. Berjanjilah pada Allah, Mas tak akan menyentuh barang haram ini lagi. Lalu segeralah mengerjakan segala amal ibadah Mas yang telah terbengkalai. Mungkin…”
“Mungkin apa?”
“Mungkin Mas benar-benar bisa menjadi Imam buat Dila,” jawab Dila tersenyum.
“Benarkah?”
“Ya! Asal Mas benar-benar bertobat dan belajar agama dengan tekun. Dila akan berikan Mas kesempatan lagi.”
Aku melompat kegirangan. Tanpa sadar aku meraih tangannya yang langsung ditariknya.
“Bukan muhrim, gak boleh!” jawabnya pelan.
Aku tersenyum. “Terus kok tadi tangan Dila mampir ke pipi Mas?”
Pipi Dila bersemu merah. “Maaf, Mas. Itu karena Dila begitu takut dan marah, hingga lepas kendali.”
“Takut kenapa dan marah kenapa?” kejarku.
“Takut Mas akan mati disebabkan benda terlarang itu. Kan, Mas belum jadi Imam buat Dila! Itu yang membuat Dila marah sama Mas,” terangnya.
Aku tertawa keras. Bahagia! Dila ingin aku jadi Imam baginya. Hm, saatnya bertobat dan melaksanakan Solat Asharku. Karena kebetulan Adzan telah masuk. Dila pun tersenyum senang, kala aku mengajaknya Solat bersama.
Oleh Angri
Label: Cerpen 0 komentar
Sabtu, 26 Februari 2011
Kuberikan Tanda Cinta Untukmu
Diposting oleh angri saputra di 01.05 Sabtu, 26 Februari 2011
Kupandangi boneka keramik berbentuk sepasang merpati putih kecil di etalase toko di depanku. Kata banyak orang, merpati itu lambang cinta suci. Karena itu, aku bermaksud untuk membeli boneka merpati tersebut. Sempat aku meragu, haruskah aku masuk? Sebabnya harga yang tertera tidak bisa kupenuhi. Uangku hanya 50 ribu, sedangkan harga yang dipasang 100 ribu, masih kurang setengahnya, jika aku tak salah hitung. Sempat aku meragu, haruskah aku masuk ke dalam dan mencoba menawar?
“Indah sekali sepasang merpati itu, ya?” suara asing terdengar dari samping kiriku.
Aku menengok, seorang pria berambut perak dan wajah keriput berdiri sejajar denganku. “Ya! Kakek tahu darimana, jika saya memandangi sepasang merpati itu?”
Kakek itu tertawa lepas. “Haha.. anak muda, Kakek dulu pernah muda. Dan seingat Kakek, dulu pernah memberikan hadiah seperti itu,” tunjuknya.
“Benarkah? Lalu apa yang terjadi, Kek?”
Kakek itu tersenyum penuh misteri. Lalu tangan tuanya merangkulku. “Kamu akan tahu sendiri, ketika kamu memberikannya pada dia yang kamu cintai. Apakah kamu suka dengan merpati itu?”
Aku menoleh dan menatap Kakek. “Sepertinya aku tak sanggup untuk membelinya, Kek!” gelengku. “Uangku tak cukup!”
Kembali Kakek itu tersenyum. Lalu dia masuk ke dalam toko. Dia berbicara dengan seorang pegawai dan pegawai itu dengan langkah tenang mengambil boneka yang kumau. Aku terkejut sekaligus berharap boneka itu akan menjadi hadiahku. Dan itu bukan mimpi.
Dengan langkah pasti, si Kakek mendekatiku. Di tangannya tergenggam boneka merparti dan tanpa menunggu lama, boneka telah berpindah tangan padaku.
“Ambilah, anggap saja ini rejekimu. Berikanlah pada dia yang kamu cintai dan menunggu kedatanganmu. Tapi ingat, kamu harus rela!”
Si Kakek pun pergi tanpa sempat aku bertanya, apa maksud perkataannya tadi?
Kini aku telah berada di kamar putih seukuran 4 x 6. Terasa luas, tapi begitu sempit. Di tengah-tengah ada ranjang kecil yang hanya cukup untuk satu orang. Dan di atas ranjang itu, terbaring sosok gadis yang kukenal lama. Aku pun berjalan mendekat. Mataku menatap haru. Tubuh gadis yang ingin kutemui hanya bisa terbaring diam dengan mata tertutup. Hidungnya dimasuki selang kecil sebagai pengantar oksigen ke dalam paru-parunya. Di tangan kanannya terpasang jarum infus Wajahnya terlihat begitu pucat, seakan-akan dirinya sudah tak ada lagi di dunia ini.
Aku berdiri di sebelah kanannya. Aku pandangi dirinya sedih. Tanganku merogoh kantong jaket dan mengeluarkan boneka merpati. Lalu dengan perlahan dan tangan gemetar, aku taruh boneka di tangannya yang lemas. Dan kukepalkan tangannya. Aku menunduk dan berbisik.
“Kuberikan tanda cinta untukmu, duhai kekasih hati sepanjang masaku. Aku menunggumu di sini dengan kerelaan dan berharap yang terbaik untukmu.”
Teeeet…
Aku terkejut, terpana sesaat. Kemudian kepanikan melandaku.
“Dokter… Tolong! Suster… Tolong!” teriakku bagai orang gila dan aku lupa, kenapa tak kupencet tombol merah tanda bahaya di atas ranjang.
Aku berlari keluar sambil terus berteriak. Hingga mengundang perhatian banyak orang, termasuk sepasang tua yang berlari ketakutan.
“Ada apa?” tanya mereka berebutan.
“Itu… Itu,” gagapku.
Pasangan itu pun meninggalkanku sendiri, karena mereka tak mendapatkan jawaban berarti dariku, yang tiba-tiba saja kelu. Lalu berturut-turut orang-orang berpakaian serba putih melewatiku dan memasuki kamar yang kutinggalkan sesaat lalu.
Lima menit berlalu. Aku masih berdiri kaku di luar kamar di depan pintu. Mataku terus mengawasi apa yang terjadi. Bibirku tiada henti berdo’a. Dan tanpa kusadari aku menangis. Tetes-tetes kecil air keluar dari mataku dan membasahi pipi. Hingga aku jatuh berlutut lemas. Saat pasangan tua di dalam kamar mulai menangis histeris dan wajah-wajah sedih dari mereka yang memakai seragam putih yang saling menatap.
Aku menunduk. “Kakek, apakah ini yang ingin kau sampaikan. Bahwa aku harus rela?”
“Indah sekali sepasang merpati itu, ya?” suara asing terdengar dari samping kiriku.
Aku menengok, seorang pria berambut perak dan wajah keriput berdiri sejajar denganku. “Ya! Kakek tahu darimana, jika saya memandangi sepasang merpati itu?”
Kakek itu tertawa lepas. “Haha.. anak muda, Kakek dulu pernah muda. Dan seingat Kakek, dulu pernah memberikan hadiah seperti itu,” tunjuknya.
“Benarkah? Lalu apa yang terjadi, Kek?”
Kakek itu tersenyum penuh misteri. Lalu tangan tuanya merangkulku. “Kamu akan tahu sendiri, ketika kamu memberikannya pada dia yang kamu cintai. Apakah kamu suka dengan merpati itu?”
Aku menoleh dan menatap Kakek. “Sepertinya aku tak sanggup untuk membelinya, Kek!” gelengku. “Uangku tak cukup!”
Kembali Kakek itu tersenyum. Lalu dia masuk ke dalam toko. Dia berbicara dengan seorang pegawai dan pegawai itu dengan langkah tenang mengambil boneka yang kumau. Aku terkejut sekaligus berharap boneka itu akan menjadi hadiahku. Dan itu bukan mimpi.
Dengan langkah pasti, si Kakek mendekatiku. Di tangannya tergenggam boneka merparti dan tanpa menunggu lama, boneka telah berpindah tangan padaku.
“Ambilah, anggap saja ini rejekimu. Berikanlah pada dia yang kamu cintai dan menunggu kedatanganmu. Tapi ingat, kamu harus rela!”
Si Kakek pun pergi tanpa sempat aku bertanya, apa maksud perkataannya tadi?
Kini aku telah berada di kamar putih seukuran 4 x 6. Terasa luas, tapi begitu sempit. Di tengah-tengah ada ranjang kecil yang hanya cukup untuk satu orang. Dan di atas ranjang itu, terbaring sosok gadis yang kukenal lama. Aku pun berjalan mendekat. Mataku menatap haru. Tubuh gadis yang ingin kutemui hanya bisa terbaring diam dengan mata tertutup. Hidungnya dimasuki selang kecil sebagai pengantar oksigen ke dalam paru-parunya. Di tangan kanannya terpasang jarum infus Wajahnya terlihat begitu pucat, seakan-akan dirinya sudah tak ada lagi di dunia ini.
Aku berdiri di sebelah kanannya. Aku pandangi dirinya sedih. Tanganku merogoh kantong jaket dan mengeluarkan boneka merpati. Lalu dengan perlahan dan tangan gemetar, aku taruh boneka di tangannya yang lemas. Dan kukepalkan tangannya. Aku menunduk dan berbisik.
“Kuberikan tanda cinta untukmu, duhai kekasih hati sepanjang masaku. Aku menunggumu di sini dengan kerelaan dan berharap yang terbaik untukmu.”
Teeeet…
Aku terkejut, terpana sesaat. Kemudian kepanikan melandaku.
“Dokter… Tolong! Suster… Tolong!” teriakku bagai orang gila dan aku lupa, kenapa tak kupencet tombol merah tanda bahaya di atas ranjang.
Aku berlari keluar sambil terus berteriak. Hingga mengundang perhatian banyak orang, termasuk sepasang tua yang berlari ketakutan.
“Ada apa?” tanya mereka berebutan.
“Itu… Itu,” gagapku.
Pasangan itu pun meninggalkanku sendiri, karena mereka tak mendapatkan jawaban berarti dariku, yang tiba-tiba saja kelu. Lalu berturut-turut orang-orang berpakaian serba putih melewatiku dan memasuki kamar yang kutinggalkan sesaat lalu.
Lima menit berlalu. Aku masih berdiri kaku di luar kamar di depan pintu. Mataku terus mengawasi apa yang terjadi. Bibirku tiada henti berdo’a. Dan tanpa kusadari aku menangis. Tetes-tetes kecil air keluar dari mataku dan membasahi pipi. Hingga aku jatuh berlutut lemas. Saat pasangan tua di dalam kamar mulai menangis histeris dan wajah-wajah sedih dari mereka yang memakai seragam putih yang saling menatap.
Aku menunduk. “Kakek, apakah ini yang ingin kau sampaikan. Bahwa aku harus rela?”
Label: Cerpen 0 komentar
Sabtu, 18 September 2010
Manusia Tidak Terkalahkan?
Diposting oleh angri saputra di 15.23 Sabtu, 18 September 2010Menjadi manusia yang tidak terkalahkan? Mungkinkah atau hanya sekedar buaian nafsu.
Pada dasarnya, manusia hanya sekumpulan mahluk hidup yang memang tercipta secara sempurna, tetapi juga mempunyai kelemahan. Jadi, tidak ada ada manusia yang tidak bisa dikalahkan. Semua akan merasa kalah, kecuali....
Jika ada kata kecuali berarti manusia bisa untuk tidak terkalahkan dong? Jangan bermimpi! Manusia pasti akan terkalahkan, terkalahkan oleh umur itu yang utama, semua akan mati.
Jadi, kecuali apa? Kecuali mereka yang mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta akan menjadi manusia yang lebih mulia, ingat hanya mulia bukan tidak terkalahkan. Maka untuk itu teman, kawan, sahabat, saudara mari kita kembali kepada Sang Pencipta. Hilangkan sikap sombong itu, hilangkan sikap takabur, karena kita akan mati!
Label: artikel 0 komentar
Kamis, 20 Mei 2010
Bunga Mawar vs Bunga Bangkai
Diposting oleh angri saputra di 19.29 Kamis, 20 Mei 2010
Bunga Mawar bertanya pada Bunga Bangkai
"Kamu kok mau sih bau wangimu berbau busuk seperti ini?"
"Memang kenapa War?"
"Ih ... kok kenapa? Baumu itu busuk sekali, membuatku muak!!!"
"Ooo ... itu ya. Tapi, aku bersyukur kok. Karena bauku ini, aku dapat hidup dengan lebih tenang. Tidak seperti dirimu!"
"Kenapa dengan aku?"
"Wangimu wangi...."
"Itu benar!"
"Jangan kau potong pembicaraanku!"
"Maumu apa?"
"Aku mau, kau berhenti bersikap sombong! Kamu tahu, walaupun kau diberikan duri untuk menjaga dirimu. Tapi, kau itu lemah! Kau mudah tercerabut dari akarmu, wangimu mengundang banyak kumbang datang dan menghisap habis madumu. Dan kau akan menangis saat itu terjadi, saat para kumbang meninggalkanmu pergi."
"Oh ... kau ... kau ... kau...."
Label: Cerpen 1 komentar
Last Note
Diposting oleh angri saputra di 19.20
Ini hanya sebuah ..... (titik-titik) dalam hidupku
Yang akan segera berakhir
Dalam ketidak tahuanku
Apakah doa yang akan mengalir?
Atau sumpah serapah?
Apakah kebaikan yang akan dikenang?
Atau keburukan menjadi cerita dan guyonan?
Entah....
Tapi, ini adalah my last note
Catatan kehidupan yang tiada berarti
Makna? adakah?
Biar masa yang menentukan
Jika kebenaran yang datang, bersyukurlah
Jika kesalahan yang tiba, maafkan aku dalam keikhlasanmu
My last note menjadi pembatas
Akan kebodohanku yang akan segera berakhir
Selamat tinggal dunia
Selamat tinggal dunia
Selamat tinggal dunia..............................
Label: puisi 0 komentar
Minggu, 25 April 2010
Habit or ?
Diposting oleh angri saputra di 05.42 Minggu, 25 April 2010"Kok, lo telat?"
"Biasalah, macet!"
"Serius? Bukannya tiap hari macet buat lo?"
"Eits ... gue udah berubah tahu!"
"Masa?"
"Lo kagak percaya sama gue?"
"Gimana gue mau percaya! Nih, baca SMS gue dari Ibu lo!"
Baru aja jalan anaknya, tadi 5 menit yang lalu. Dari : 0815xxxxxxxx Dikirim : 25 April 2010 19:10
"Sekarang udah jam 19:32. Janji kita itu jam 19.00. Lo udah telat lebih dari 30 menit."
"Ya, maaf deh!"
"Gue sih gampang aja maafin lo. Tapi, lo tuh kagak pernah mau berubah! Selalu telat! Kenapa? Kebiasaan lo? Atau lo malas? Atau bisa jadi memang lo kagak bisa menghargai waktu, diri lo dan teman lo?"
"Kok, lo marah sama gue?"
"Marah? Masa? Gue kagak marah, cuman kecewa sedikit. Tapi, percuma aja, lo kagak akan pernah berubah!"
"Lo kok jadi hakimin gue kayak gitu. Apa gak boleh gue berubah?'
"Boleh, Siapa yang ngelarang? Gue? Kagak berani! Hanya masalahnya, lo mau kagak berubah?"
"Hmm...."
"Udah gue pulang duluan, makan malam batal! Bisnis kita juga gagal! Besok kita ketemuan lagi dan besok lo harus hadir tepat waktu! Ingat, tepat waktu!"
Label: Cerpen 0 komentar
Minggu, 18 April 2010
Catatan kecil orang yang terbuang
Diposting oleh angri saputra di 22.00 Minggu, 18 April 2010Menjadi orang buangan atau terbuang adalah hal yang sangat menyakitkan. tapi, ini kadang terjadi pada diri kita. padahal, kita sudah berusaha untuk menjadikan diri, tindakan atau perbuatan kita untuk menyenangkan orang lain.
sayangnya, terkadang hal itu masih saja dianggap kurang oleh sebagian orang. terasa menyakitkan memang. namun, apa yang harus kita lakukan. menangis? huh ... lupakan saja cara bodoh ini. melawan? hmm ... mampukan kita jika kekuatan tidak bersama kita. jadi, harus bagaimana. mungkin sebuah cara yang dianggap terlalu tua, terlalu baik bagi diri kita, yaitu bersabar dan pasrah diri. hei ... tapi ingat! dengan bersabar dan pasrah diri segala kebaikan itu akan datang pada kita. percayalah! mungkin bukan di sini tapi nanti di sana. mereka yang mau bersabar itu adalah orang-orang pilihan, mereka yang bisa pasarah diri adalah orang-orang yang dicintai. but ... ini masih kurang belom cukup. selain itu, kita harus tetap berjuang, berdoa dan yang terutama mendoakan mereka yang menggangap kita kurang dengan hal-hal yang baik.
entahlah ... namun ini apa yang dikatakan oleh seorang tua padaku.
Label: Renungan Islami 0 komentar
Rabu, 31 Maret 2010
Cinta Terlarang
Diposting oleh angri saputra di 22.24 Rabu, 31 Maret 2010
Jatuh cinta berjuta rasanya, tapi ini bukan bagian dari lirik lagu lho. Memang saat kita jatuh cinta akan datang berjuta-juta rasa yang tidak bisa diungkapkan. Hingga kadang-kadang kita berani melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan cinta yang kita mau.
Cara yang dilakukan bisa jadi cara yang teramat baik atau manis, bisa juga kita melakukannya sambil mengikuti waktu dan terkesan alami, tapi hal yang membahayakan kita bisa melakukan cara yang bisa dianggap kejam, jahat atau menghalalkan segalanya.
Tak jarang cara yang kita gunakan itu bisa menjadi senjata makan tuan bagi diri kita sendiri. Hubungan itu tidak direstui, penuh gejolak dan sebagainya.
Hubungan asmara itu bukankah sebaiknya saling menghormati dan menjaga kesucian hati dan diri. Jadi, kenapa juga kita harus terjebak dalam cinta yang terlarang. Jika kita benar-benar mencintai pasangan kita maka kita harus berani menolak ajakan yang tidak baik.
Mengorbankan diri untuk cinta yang berbalut hawa nafsu adalah kerugian, jangan deh yang ada nanti nyesel sendiri.
Label: artikel 0 komentar
Mak Irah
Diposting oleh angri saputra di 04.36Mak Irah menhembuskan nafasnya. Ia sedang berada di sebuah pondok kecil di tepi sawah yang harus dijaganya. Masa panen hampir tiba, padi-padi yang menguning akan menjadi santapan empuk burung-burung. Mak Irah dengan tangan kurusnya menarik tali temali yang mengikat boneka sawah agar bergerak. Boneka sawah itu akan mengusir burung-burung yang berani datang mendekat tanpa Mak Irah harus turun dan menghela mereka dengan tubuhnya.
Hampir sepanjang hari di waktu siang, Mak Irah berjuang mempertahankan hidupnya dengan menjadi buruh tani bagi Juragan Anton. Sudah sekitar 30 tahun Mak Irah menjadi anak buah Juragan Anton yang terkenal loyal dan baik hati pada semua orang tapi pelit pada Mak Irah.
Perubahan sikap juragan Anton dimulai 5 tahun lalu, anak gadis Mak Irah yang bernama Santi ingin dipersuntingnya. Namun Santi menolak dengan alasan tidak mau menjadi istri yang ke-4 Juragan Anton. Mak-nya sudah berusaha membujuk dengan berbagai cara tapi tetap tidak diidahkannya. Puncaknya Santi keluar dari rumah sempit yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ditinggalkannya Mak Irah dalam kesepian dan kesedihan.
Mak Irah termenung saat mengingat kepingan masa lalunya yang begitu mengharu-biru hidupnya. Ia tidak bisa menyalahkan Santi, Juragan Anton pun tiada sanggup ia salahkan. Mak Irah hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa memberi pengertian yang cukup untuk Santi.
Wajah Mak Irah begitu sendu, awan hitam terlihat bergelayut manja di sinar matanya. Rona gelap raut mukanya tidak bisa disembunyikan walaupun ia tersenyum. Itulah yang membuatku sering mengunjunginya seminggu terakhir ini.
Seminggu yang lalu, aku baru saja menjejakkan kakiku di kampung di mana Mak Irah tinggal. Perjalananku kemari bukan bermaksud mengunjungi keluarga atau temanku, sebatas berpetualangan saja. Ketika itu aku melihat Mak Irah yang sedang duduk bertopang dagu. Matanya terlihat mengantuk tapi dirinya tidak. Dipaksakannya dirinya terus berjaga agar burung-burung tidak mempunyai kesempatan berpesta pora.
Karena melihat semangat Mak Irah, aku memutuskan mendatanginya. Sekedar bertegur sapa dan siapa tahu aku bisa menginap di rumahnya, itu pikirku awalnya.
“Selamat siang, Mak …,” sapaku sopan.
“Si … siang,” jawabnya terkejut.
“Mak sendiri saja? Kemana yang lain?” tanyaku.
“Kamu siapa, Nak? Mak tidak kenal kamu?” tanyanya balik tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku garuk-garuk kepala, betapa bodohnya aku tidak memperkenalkan nama terlebih dahulu.
“Aku Abdi, Mak. Mak sendiri siapa namanya?” tanyaku kembali sambil menyodorkan tangan.
“Irah … panggil saja Mak Irah!” ucapnya pelan sambil menggengam tanganku. Tangannya dingin sekali.
“Mak Irah sakit, ya?”
“Tidak,” jawabnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
“Tapi tangan Mak dingin sekali,” ucapku penasaran.
“Tangan dingin ini tidak seberapa, Nak Abdi. Dinginnya hati ini yang begitu menyiksa,” tuturnya dengan wajah yang tertunduk.
“Kenapa Mak? Bolehkah Abdi mendengarnya!” mintaku.
Mak Irah menatapku dengan bola matanya yang menampakan rasa penasaran dan ketidaksukaannya.
Aku yang baru dikenalnya berani meminta ia bercerita tentang masa lalunya. Berani sekali.
“Mak tidak usah takut! Abdi bisa menjaga rahasia itu.”
“Benarkah?”
Aku tersenyum dan menyentuh lembut tangan tua itu.
“Dengarlah…! Hati Mak begitu dingin sejak kepergian anak Mak satu-satunya, Santi. Dia pergi begitu saja tanpa mau membawa Mak-nya ini ikut serta. Hingga Mak harus seperti ini, dipandang hina dan rendah oleh orang lain.”
Mak Irah menghela nafasnya lalu ia menatapku memastikan apakah aku tertarik mendengar ceritanya atau tidak.
“Sampai sekarang, Mak sama sekali belum mendapatkan kabar darinya. Sepucuk surat atau salam tiada pernah datang. Sudah lima kali lebaran dia tidak pernah mengunjungi Mak, bersimpuh dan memohon ampunan. Mak rindu dengan kehadirannya, senyumnya dan tawanya.”
“Kenapa Santi pergi meninggalkan Mak?’
“Dia tidak mau Mak nikahkan dengan Juragan Anton pemilik sawah ini.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tega sekali anak itu, gadis itu, Santi. Dia meninggalkan Mak-nya sendirian dalam ketidakpastian.
“Lalu apa yang diperbuat oleh Juragan Anton, Mak?”
“Hehehe … dia … dia … dia marah. Tapi dia masih mau memperkerjakan Mak di sini tanpa adanya kenaikan upah.”
Mak Irah menatap langit yang mulai menghitam sesaat ia menutup ceritanya.
“Kejam sekali, kenapa dia melakukan itu Mak?’
“Karena dia yang mempunyai uang, dia yang berkuasa di sini. Namum … dia tidak akan pernah menguasai hidup Mak. Karena hidup dan nafas Mak hanyalah punya Sang Kuasa, Sang Pencipta.”
Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapan Mak yang terakhir itu.
“Nak Abdi, hari sudah sore. Mak harus segera pulang. Kamu mau ke mana?”
“Aku tidak tahu Mak. Aku harus tidur di mana. Rencananya aku ingin tidur di rumah Mak, tapi Mak hidup sendirikan. Abdi tidak berani, Mak.”
Mak Irah memandangku. Wajah kelamnya tersenyum lalu helaan nafas diikuti oleh ucapannya.
“Benar sekali, Nak Abdi. Kamu tidak boleh tidur di rumah Mak. Karena tidak ada sosok lelaki pun di rumah. Bagaimana kalo kamu tidur di mushola kampung ini saja?”
“Iya, Abdi baru saja berpikir seperti itu Mak. Tunjukan Abdi mana jalannya Mak!”
Akhirnya kami meninggalkan pondok di tepi sawah dan berjalan menjauh. Rumah Mak Irah tidak jauh dari sawah tempat dia menggantungkan hidup, tapi karena ia mau mengantarkan aku maka kami terus berjalan. Setelah mushola terlihat, Mak Irah meninggalkanku sendiri.
Semenjak itulah kami sering berbicara panjang lebar. Tentang kehidupan Mak Irah, tentang kehidupanku dan yang paling mengesankan tentang petuah-petuah bijaknya. Aku sangat senang dengan satu petuahnya, “Hidup ini bagaikan kepingan kaca yang berserakan. Jika kamu bisa menyatukannya maka hidupmu akan dibayangi oleh beragam kesuksesan. Jika kamu masih belum bisa berusahalah. Jangan tinggalkan kepinganmu di tempat di mana kamu menginjaknya. Jika sudah tidak lagi dipergunakan kepingan itu, buanglah sejauh mungkin hingga kamu tidak lagi mengingatnya.” Entah apa arti petuah itu, tapi aku suka sekali.
Sore itu, di mana aku belum sempat menemui Mak Irah di siang hari karena kebetulan aku membantu membersihkan mushola. Setelah selesai secepat kilat aku berlari ke tempat pertemuanku dengan Mak Irah. Sayangnya aku datang terlambat. Saat aku sampai Mak Irah melambaikan tangannya ke arahku bukan memanggilku lebih tepat lambaian itu seperti mengucapkan selamat tinggal. Mak Irah tersenyum manis sekali bersama wajahnya yang bersinar begitu cerah.
Aku percepat langkahku mengjenguknya lalu…
Tubuh tua Mak Irah berguncang, ia berteriak, “Allahu Akbar.”
Perlahan-lahan, mata tuanya menutup, hembusan nafasnya berhenti, detak jantung tiada terdengar. Aku berlari mengejar agar tubuhnya tidak jatuh ke atas bumi. Mak Irah meninggalkanku, meninggalakan berjuta kenangan dan petuangnya bagiku.
***
Malam itu aku menceritakan pengalamanku berada di kampung Mak Irah pada pacarku, Ranti. Gadis yang aki cintai tapi aku tidak tahu darimana asal-usulnya. Namun yang menjadi pertanyaanku, Ranti menangis sesaat aku selesai bercerita, bukan hanya menangis biasa saja. Tapi dia berteriak-teriak bagaikan orang gila. Apakah Ranti itu Santi?
Label: Cerpen 0 komentar
Rabu, 24 Maret 2010
5 Cara Mudah Menghilangkan Stress
Diposting oleh angri saputra di 23.06 Rabu, 24 Maret 2010
Siapa bilang remaja seusia kalian tidak bisa terkena stress, depresi atau keputus-asaan. Hal yang wajar banget, lho. Karena dalam hidup ini, ada aja yang menjadi hambatan atau masalah pribadi. Ambil contoh, saat kamu dimarahin oleh Ortu padahal kamu nggak salah, pekerjaan rumah yang menumpuk, sulitnya mengerti pelajaran and so much things that make you get the problem.
Di bawah ini, kamu bisa lihat pembahasan singkat tentang cara-cara menghilangkan stress. Lets we look, yuk…
Tarik Nafas
Saat kamu merasakan stress mulai datang, tariklah nafas perlahan-lahan dua atau tiga kali. Hal ini bisa membawa pasokan oksigen ke otak kamu sambil bayangkan dirimu sebuah balon yang butuh udara, lalu hembuskan secara perlahan. Dengan melakukan ini, hormon stress dan kegugupanmu bisa berkurang.
Berpikir Hal Positif
Pikirkanlah beberapa hal yang bersifat positif waktu kamu stress. Katakan, betapa beruntungnya kamu masih bisa hidup, betapa kamu bisa melakukan pekerjaan paling sulit sebelum ini, betapa indahnya alam ini dan lainnya sesuai pengalaman terbaik yang pernah kamu alami.
Slow Down (Pelan-pelan)
Saat kamu sedang diburu-buru oleh waktu, kebanyakan hal ini bisa membuat kamu stress, kan? So, berhenti sejenak lalu kerjakan saja secara perlahan-lahan. Cobalah untuk lebih teliti supaya terhindar dari kesalahan mendasar dan jika bisa, kamu kerjakan jauh sebelum waktunya datang.
Ubah Sudut Pandang / Jalan Pikiran
Rencana yang kamu pikirkan dan lakukan saat ini ternyata tidak berhasil. Nah, waktunya untuk merubah semua itu. Pikirkan kembali cara terbaru, cari kesalahanmu dan lepaskan semuanya dengan melakukan hal yang benar-benar baru. Untuk berikutnya, selalu siapkan rencana cadangan.
Biarkan Saja
Kenapa harus tetap kamu rasakan stress itu? Biarkan saja, lepaskan beban stress pikiran dan tubuhmu menjauh. Berteriaklah lalu tinggalkan masalah itu di belakangmu.
Semoga beberapa cara dan penjelasan singkat ini bisa bermanfaat bagimu, ya. Hingga peluangmu untuk menyalahkan diri sendiri atau orang lain bisa berkurang, tuh. Di tambah ketika stress itu datang, kamu bisa menghilangkannya sendiri. Perkuat dirimu dengan mengalahkan kelemahan dirimu.*
0 komentar
Aku Kalah
Diposting oleh angri saputra di 08.23
Aku kalah...
bisa saja, bagi mereka
tapi di hatiku?
Aku menangis...
mungkin saja, di mata mereka
tapi kenyataannya?
Hahaha...
bisa saja kalian aku berbohong pada diriku sendiri
tapi tahukah kalian? bisakah kalian?
tahu kematianku? apa yang akan terjadi padaku esok?
tidak bukan
Jadi berhenti berkata buruk tentangku
lebih baik kita saling memberikan saran
bertukar pikiran
berdiskusi bukan berdebat
maukah kamu?
Label: puisi 0 komentar
Jujur, Benar dan Adil
Diposting oleh angri saputra di 07.55
Bohong...
dimana suara manismu itu
yang membuai angan
dengan harapan yang besar
Jujur...
kau bilang itu semua kejujuran
tapi mana buktinya
yang ada semuanya berubah
mereka yang didekatmu
berubah dari tidak punya menjadi besar
sedangkan yang jauh darimu
semakin tenggelam dalam kehancuran
benarkah...
benarkah katamu itu
kata yang mengharu biru
penuh dengan keluh kesah yang manis
tapi...
senyummu palsu
bukannya memberikan kenyamanan
tapi malah kau membela mereka
mereka yang dekat padahal bersalah
kau lindungi dengan tetesan air matamu
mereka yang jauh kau lupakan
bahkan kau tendang dan penjarakan
adil...
kau selalu berkat apa yang dilakukan untuk keadilan
bagi siapa?
untuk siapa?
adil buatmu itu hanya kesemuan bukan?
karena kau membela mereka
mereka yang memberikan pukulan
pada sekumpulan manusia yang terhinakan
adilkah jika kau memenjarakan
menaruh banyak orang di kotak yang terbungkus tiang besi
orang-orang yang tidak bersalah terhukum berat
mereka yang bersalah terhukum ringan.
Label: puisi 0 komentar
Kamis, 18 Maret 2010
Anak Kecil & Lelaki (Bapak & Suami)
Diposting oleh angri saputra di 21.52 Kamis, 18 Maret 2010
seorang anak kecil bermain di depan halaman rumah, tampak begitu gembira. Hingga datang seorang lelaki berusia kira-kira 30 tahun mendatangi halaman. Anak yang sedang asyik bermain itu berhenti, saat melihat kedatangannya.
Lelaki itu duduk di sebuah batu besar di bawah pohon belimbing. Anak yang tadi bermain, kini berjalan menghampirinya. Perlahan tapi pasti, anak itu mulai mendekat pada diri lelaki yang tampak lelah. Wajah lelaki itu tertutup oleh debu dan bajunya kusam lusuh.
Anak kecil itu tampak tidak canggung. Keberaniannya mendatangi lelaki yang tidak dikenalnya, karena baru pertama kali ini bertemu mengapungkan tanda tanya. Apakah anak itu benar berani atau hanya karena rasa penasarannya.
Semakin dekat, semakin jelas keletihan dari lelaki itu. Senyum yang keluar sepertinya hanya sebuah senyum pemanis biasa saja.
"Om, siapa? kenapa duduk di sana? Om, sepertinya letih?"
"Nak, aku hanya manusia yang sedang mencari. Tempat duduk ini masih lebih baik dari kursi yang ada di dalam ruangan. Om tidak letih, Nak."
"Om berbohong?"
"Apa? kenapa kamu bisa bilang Om berbohong, Nak?"
"Karena sebenarnya kursi yang ada di dalam ruangan itu adalah yang Om cari, kan? dan juga Om telah letih dalam berjuang, tapi tidak menemukan apa yang Om cari itu?"
"Oh... Katakan, Nak! apa maksud perkataanmu itu?"
"Sebelumnya, jawab pertanyaanku, Om! Apa yang Om cari? dan perjuangan apa yang telah Om berikan?"
"Om ini mencari apa yang dinamakan jalan menuju surga, Nak. Hingga Om rela meninggalkan semuanya. Anak-Istri, Om tinggalkan. Begitu juga harta kekayaan, Om. Om ingin apa yang dicari itu benar-benar datang karena perjuangan, Om sendiri."
"Wah... Om sudah gila, ya?"
"Gila...? kamu jangan buat Om bingung, Nak!"
"Iya, Om gila! Punya Anak-Istri tapi ditinggalkan begitu saja. Harta kekayaan, Om telantarkan begitu saja. Apakah itu bukan gila, Om?"
"Tidak, Nak. Om tidak gila. Ini perjuangan. Ini jalan yang Om yakini bisa memberikan Om jalan menuju surga. Karena kita kembali tidak membawa apa-apa, Nak."
"Aku setuju dengan apa yang Om katakan di akhir ucapan, Om. Tapi tidak yang pertama!"
"Kenapa? Apa yang kau ragukan?"
"Karena perjuangan Om yang sesungguhnya adalah mendidik Anak-Istri dengan ilmu yang bermanfaat. Bimbingan Iman yang bisa menambah keyakinan mereka atas apa yang Om yakini. Membelanjakan harta di jalan yang lebih baik. Coba bayangkan, Om! Apa yang mereka lakukan di sana, apa yang mereka kerjakan dengan harta yang Om tinggalkan?"
"Om tidak tahu."
"Ya, Karena Om bodoh. Buta oleh hawa nafsu sendiri yang menginginkan surga untuk diri sendiri. Apakah mereka akan rela jika hanya Om yang diberikan pintu surga. sedangkan mereka kehilangan arah dan pegangan mereka. Tidak, mereka akan meminta sebagian pahala yang Om miliki. Mereka akan berkata "Tidak Adil, Wahai KAU yang Maha Pengasih, Lelaki ini, Suami dan Bapak dari Anak-anakku hanya melakukan kewajibannya seorang diri saja. Tanpa mau memberikan kami sedikit Ilmu."
"Jadi apa yang harus Om perbuat, Nak?"
"Aku tidak tahu. Om yang lebih tahu mana yang terbaik. Keyakinan atas jalan yang Om tempuh ini atau Anak-Istri yang menunggu di rumah dengan doa mereka yang meminta perlindungan dan harapan pulangnya diri Om."
Lelaki itu tidak menjawab. Dia bangkit berdiri dan melangkah pergi. Kekerasan hatinya telah dikalahkan oleh seorang anak kecil. Apakah dia harus kembali? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Sedangkan, dia sudah mengatakan pada Anak-Istrinya bahwa dia akan pergi dalam waktu yang lama. Mencari jalan surga tapi melupakan kewajibannya sebagai Suami dan Bapak.
Anak kecil itu kembali bermain dengan asyiknya sepeninggalan lelaki itu.
Label: Cerpen 0 komentar
Diposting oleh
angri saputra
di
21.49

Wahai Tuanku, pemilik jiwa ini
kenapa mereka menampikku
menghalauku masuk ke dalam istanamu
padahal mereka juga sama sepertiku
mencari dan mencari...
Wahai Tuanku, pemilik tubuh ini
topengku bukanlah milik mereka
ini milikmu..
tapi mereka mentertawakannya
menganggap busuk dan buruk topeng yang kupakai
Wahai Tuanku, pemilik nafas ini
bajuku memang tidak seindah milik mereka
tapi bajuku ini milikmu
baju yang bisa berkata "Ya aku bersaksi"
tapi mereka menghinanya dan berkata "Buang Bajumu, gantilah"
padahal mereka tidak tahu?
Wahai Tuanku, pemilik nyawa ini
bakarlah... bakar nafsu dalam tubuhku ini
dalam penjaramu
hingga nanti aku kembali
dalam dekapan sinarmu
Label: Renungan Islami 0 komentar

Wahai Tuanku, pemilik jiwa ini
kenapa mereka menampikku
menghalauku masuk ke dalam istanamu
padahal mereka juga sama sepertiku
mencari dan mencari...
Wahai Tuanku, pemilik tubuh ini
topengku bukanlah milik mereka
ini milikmu..
tapi mereka mentertawakannya
menganggap busuk dan buruk topeng yang kupakai
Wahai Tuanku, pemilik nafas ini
bajuku memang tidak seindah milik mereka
tapi bajuku ini milikmu
baju yang bisa berkata "Ya aku bersaksi"
tapi mereka menghinanya dan berkata "Buang Bajumu, gantilah"
padahal mereka tidak tahu?
Wahai Tuanku, pemilik nyawa ini
bakarlah... bakar nafsu dalam tubuhku ini
dalam penjaramu
hingga nanti aku kembali
dalam dekapan sinarmu
Label: Renungan Islami 0 komentar
Sabtu, 13 Maret 2010
AMBIL
Diposting oleh angri saputra di 10.13 Sabtu, 13 Maret 2010ambil....
ayo ambil jika kau mau?
tidak akan merugikanmu,kok
percaya deh...
ambil...
jangan malu-malu
lepaskan selimut malasmu
taruh di tempat sampah yang sedang terbakar itu
takut...
kenapa harus takut
dirimu tak akan terbakar, kok
sudah buang saja...
bagus...
langkahkan kakimu, lemparkan selimut itu
sudah, kemarilah...
ini untukmu...
ambil...
ambil saja...
air di dalam gelas ini untukmu
tahukah kamu apa isi di dalamnya?
ambil...
itu air surgamu
karena kau telah membuang semuanya
nafsu dan kekotoranmu itu
ambil...
ambil dan raih hadiahmu
seperti yang dijanjikan
kepada mereka yang mau kembali, bertobat...
Label: puisi 0 komentar
AMBIL
Diposting oleh angri saputra di 10.13ambil....
ayo ambil jika kau mau?
tidak akan merugikanmu,kok
percaya deh...
ambil...
jangan malu-malu
lepaskan selimut malasmu
taruh di tempat sampah yang sedang terbakar itu
takut...
kenapa harus takut
dirimu tak akan terbakar, kok
sudah buang saja...
bagus...
langkahkan kakimu, lemparkan selimut itu
sudah, kemarilah...
ini untukmu...
ambil...
ambil saja...
air di dalam gelas ini untukmu
tahukah kamu apa isi di dalamnya?
ambil...
itu air surgamu
karena kau telah membuang semuanya
nafsu dan kekotoranmu itu
ambil...
ambil dan raih hadiahmu
seperti yang dijanjikan
kepada mereka yang mau kembali, bertobat...
Label: puisi 0 komentar
Sabtu, 06 Maret 2010
Mimpi itu kali....
Diposting oleh angri saputra di 05.09 Sabtu, 06 Maret 2010
Kita ingin melakukan sesuatu yang beda, tapi teman malah berkata, "Mimpi itu kali..." Yup, pernah kan mendengar kata-kata ini dari temanmu or siapa aja yang dekat sam kamu.
Sebenarnya apa yang menjadi mimpi itu bisa menjadi satu kenyataan lho, asalkan yakin dan percaya...
Ya, dengan keyakinan dan kepercayaan itu bisa memutar balikan semuanya lho, tapi tetap didukung oleh kerja keras dan semangat belajar ya. Jangan pernah takut dengan semua omongan orang-orang itu, sekali kamu mundur maka akan datang penyesalan dalam dirimu. Ingat, mereka hanya bisa memberikan saran dan pendapatnya, selanjutnya terserah kamu.
Ok, jangan pernah takut ya, terus bermimpi dengan kerja keras dan semangat belajarmu serta keyakinan dan kepercayaan bahwa mimpimu itu bisa terwujud. Adios...
Label: artikel 0 komentar
Kamis, 04 Maret 2010
Garuda Menangis
Diposting oleh angri saputra di 21.10 Kamis, 04 Maret 2010
Kepak sayap memayungi bayangan
berkelabat liar di atas bumi
memenuhi langit dengan teriakannya
Tapi itu dulu
saat, garuda masih teramat banyak
mereka berjuang tuk terbang tinggi
Kini tak seperti dulu
garuda menghilang bersama tangisan
melihat penggantinya tiada keberanian
Merusak semua yang direncankan
membungkus kejahatan dalam kesantunan
membungkus bangkai dalam kebaikan
Siapa yang harus disalahkan
Dia, yang tidak berani berkata benar
atau mereka, yang kelaparan
Label: puisi 0 komentar
Pemimpin yang baik
Diposting oleh angri saputra di 20.54
Sebenarnya, siapakah pemimpin yang terbaik itu?
sebuah pertanyaan yang sering kali kita ajukan, baik pada diri sendiri atau orang lain.
pemimpin itu seharusnya bisa menanggung semua beban tanggung jawab yang ada. contoh paling sederhana adalah diri kita sendiri, jika kita sanggup mempertanggung jawabkan segala kesalahan yang kita lakukan, maka bisa dipastikan langkah menjadi pemimpin bisa kita miliki.
tapi, bagaimana dengan mereka yang memimpin sebuah rumah tangga, perusahaan, organisasi, partai maupun negara?
wah, sedikit berat nih, tapi secara sederhana aja deh, selama keputusan yang kita buat tidak merugikan orang lain dan tidak menguntungkan golongan maka kita bisa disebut sebagai pemimpin yang baik.
tapi sayangnya, masih banyak pemimpin yang ga mau tuh berkorban banyak, coba deh liat ada ga yang bisa mengikuti cara pemimpin terdahulu yang rela hidup dalam kemiskinan....? hampir semuanya di negeri ini, para pemimpin hidup dalam kemewahan.
kok bisa sih, ya bisa lah, kan mereka masih melihat betapa enaknya menjadi penguasa, hingga melupakan bahwa banyak mulut-mulut yang kelaparan. golongan dipertahankan, teman dekat yang jelas-jelas diketahuinya berbuat salah dibela, tidak mau mendengar apa itu kebenaran, selalu merasa yakin tindakannya benar dan selalu berlindung di balik kepentingan kelompoknya.
pemimpin yang baik itu, harus siap minta maaf jika dia merasa bahwa tidak bisa semuanya dilindungi olehnya, harus siap berkata "SAYA SALAH" dan terutama tuh, pemimpin dilarang keras berkeluh kesah pada semua bawahannya apalagi menangis kayak anak kecil. pemimpin memang manusia, dan yang paling tepat baginya untuk menangis dan berkeluh kesah di hadapan SANG PENCIPTANYA, ALLAH SWT. bukan pada mahluknya... kecuali jika dia mau bertanya tentang sebuah jalan keluar yang terbaik bagi semuanya, ALLAH dahulu baru petunjuk itu datang melalui mahluknya.
semoga bermanfaat dan menjadi renungan kita semua ya...
Label: artikel 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
