Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Februari 2011
Di Atas Meja
Diposting oleh angri saputra di 20.04 Senin, 28 Februari 2011Lelaki muda berpakaian seragam OB tampak berjalan menuju ruang kantor utama, tempat Pak Bos berkantor. Langkahnya pasti. Dia memegang amplop besar warna coklat. Begitu sampai di pintu yang terbuat dari kayu jati, dia menghela nafas.
Tok… Tok… Tok.
“Masuk!” seru suara dari dalam kantor sebagai jawaban dari ketukan di pintu.
Pintu terbuka dan masuklah si OB dengan tatapannya menumbuk pandangan si Bos. Senyum terkembang terlukis di wajah si Bos.
“Oh, Pardi. Silahkan duduk!” tawarnya manis dengan tangan membuka mempersilahkan OB yang bernama Pardi untuk duduk di depannya.
“Terima kasih, Pak Bos,” ucap Pardi dan dia berjalan mendekat. Tapi berhenti tepat di samping kursi empuk berkulit hitam.
“Loh, duduklah!” tawar Bos dengan lembut.
“Tidak, Pak. Saya berdiri saja,” tegas Pardi dan matanya melirik ke amplop kecil berwarna putih di atas meja.
“Ya, sudahlah!” seru si Bos sambil mengangkat bahu. “Kebetulan kamu datang. Padahal saya baru saja mau memanggilmu.”
“Berarti Pak Bos tak perlu lagi memanggil saya.”
Si Bos mengangguk. Lalu tangannya meraih amplop putih dan langsung menyodorkannya ke Pardi.
“Ambilah!” perintahnya.
“Buat apa Pak Bos?” tanya Pardi heran. Tapi tangannya sama sekali tak menyentuh amplop tersebut.
“Bonus karena pengabdianmu yang tinggi.”
Pardi tertawa kecil. “Pak Bos lupa, ya? Saya kan baru 1 bulan bekerja di sini.”
Si Bos terkejut. “Oh, saya pikir kamu sudah 1 tahun di sini. Tetapi tak apa-apa. Kamu ambil saja, anggap saja sebagai bonus karena kerjamu yang rajin.”
Kembali Pardi tertawa. “Pak Bos –Pak Bos. Sayang sekali, amplop putih yang tertutup ini begitu bersih, tetapi di dalamnya mungkin saja kotor dan bau.”
“Maksudmu apa?” marah si Bos.
“Hm, jika Pak Bos merasa saya akan tutup mulut setelah melihat kelakuan bejat kemarin sore dengan uang ini, maka Pak Bos salah besar. Tanpa Pak Bos minta pun, saya akan tutup mulut serapat-rapatnya,” jelas Pardi. Dia menarik nafas dan menghelanya. “Karena kedatangan saya kemari buat memberikan surat pengunduran diri!”
Si Bos berdiri. “Kamu lancang Pardi!” tunjuknya. “Beraninya kamu bicara seperti itu!”
“Siapa yang lancang di sini, Pak Bos?” senyum Pardi. “Tentu saja saya berani bicara dengan Pak Bos, yang sekarang bukan lagi Bos, saya.”
“Jadi kamu mau memeras saya?” geram si Bos.
“Untuk apa?” tanya Pardi lantang. “Saya bukan manusia yang mau memanfaatkan kesalahan orang lain. Saya hanya tak mau suatu hari nanti kembali melihat perbuat bejat seperti kemarin sore. DOSA! SALAH BESAR!”
Si Bos melotot. Pardi tersenyum dengan ramah, matanya lembut menatap Bos.
“Permisi, Bos, saya pergi!” seru Pardi ramah. Lalu berbalik, tapi hanya 3 langkah, dia kembali menghadap Bos. “Bos, maafkan saya jika lancang bicara seperti ini. Bertobatlah Bos! Kesenangan dunia hanya sesaat, kesenangan akhirat itu selamanya. Saya yakin Bos pasti mempunyai hati nurani, hingga tak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama.”
Pardi pun pergi meninggalkan si Bos yang duduk lemas di kursinya yang empuk. Begitu pintu tertutup, Bos menundukkan wajahnya. Isak tangis kecil terdengar. Lalu dia meraih HP-nya dan memencet sebuah nomor. Begitu tersambung.
“Bu, maafkan Bapak yang telah menodai ikatan suci kita.”
Label: Cerpen 0 komentar
Maafkan Aku Yang Menunggu Jawabanmu
Diposting oleh angri saputra di 19.58
Brak!
Pintu kamarku terbuka dengan menimbulkan suara keras. Aku yang sedang mengikat tanganku sambil menunduk, terkejut. Aku mendongak dan rasa kejutku bertambah. Di depan pintu dengan wajah marah berdiri Dila, gadis yang kucinta. Langkah kecilnya perlahan masuk dan tiba-tiba tangannya telah terukir manis di pipiku.
“Apa Mas belum puas menyakiti diri sendiri?” marah Dila sambil mengambil alat suntik dan melemparnya ke sudut kamar. “Pikir Mas!” Apa Mas tahu, kelakuan Mas ini telah menyakit hati Dila!”
“Maaf!” keluhku pelan.
“Maaf! Maaf saja gak cukup, Mas! Berhentilah! Dila memohon pada Mas, jika benar Mas menyayangi Dila? Mas jahat!”
Aku berdiri. “Bukankah selama ini Mas telah membuktikan kasih sayang itu pada Dila? Tapi Dila selalu menolak kehadiran Mas!” kerasku tak mau kalah.
“Kasih sayang apa?” isak Dila. “Mas hanya memberikan Dila materi. Tanpa Mas mau mengerjakan Ibadah. Dila butuh Imam bukan hanya sekedar harta!” serunya.
“Kenapa kamu tak katakan itu dari dulu?”
“Dulu! Sudah beratus kali Dila mengingatkan Mas akan hal itu. Tapi buktinya apa?” isak Dila mulai berkurang. “Mas lebih asyik berbohong dan sekarang baru Dila tahu, kalo Mas suka memakai obat terlarang.”
“Dila, Mas seperti ini karena telah lelah menunggu jawabanmu. Terus suasana keluarga Mas yang tak nyaman, membuat Mas lari.”
“Alasan kosong. Lari ke dalam pelukan Allah itu lebih baik, Mas. Bukan ke dalam alam mimpi yang dibuat oleh benda terlarang itu!” tunjuk Dila pada serbuk putih yang tercecer di kasur dan lantai.
“Maafkan Mas!”
“Hm, tak semudah itu. Berjanjilah pada Allah, Mas tak akan menyentuh barang haram ini lagi. Lalu segeralah mengerjakan segala amal ibadah Mas yang telah terbengkalai. Mungkin…”
“Mungkin apa?”
“Mungkin Mas benar-benar bisa menjadi Imam buat Dila,” jawab Dila tersenyum.
“Benarkah?”
“Ya! Asal Mas benar-benar bertobat dan belajar agama dengan tekun. Dila akan berikan Mas kesempatan lagi.”
Aku melompat kegirangan. Tanpa sadar aku meraih tangannya yang langsung ditariknya.
“Bukan muhrim, gak boleh!” jawabnya pelan.
Aku tersenyum. “Terus kok tadi tangan Dila mampir ke pipi Mas?”
Pipi Dila bersemu merah. “Maaf, Mas. Itu karena Dila begitu takut dan marah, hingga lepas kendali.”
“Takut kenapa dan marah kenapa?” kejarku.
“Takut Mas akan mati disebabkan benda terlarang itu. Kan, Mas belum jadi Imam buat Dila! Itu yang membuat Dila marah sama Mas,” terangnya.
Aku tertawa keras. Bahagia! Dila ingin aku jadi Imam baginya. Hm, saatnya bertobat dan melaksanakan Solat Asharku. Karena kebetulan Adzan telah masuk. Dila pun tersenyum senang, kala aku mengajaknya Solat bersama.
Oleh Angri
Pintu kamarku terbuka dengan menimbulkan suara keras. Aku yang sedang mengikat tanganku sambil menunduk, terkejut. Aku mendongak dan rasa kejutku bertambah. Di depan pintu dengan wajah marah berdiri Dila, gadis yang kucinta. Langkah kecilnya perlahan masuk dan tiba-tiba tangannya telah terukir manis di pipiku.
“Apa Mas belum puas menyakiti diri sendiri?” marah Dila sambil mengambil alat suntik dan melemparnya ke sudut kamar. “Pikir Mas!” Apa Mas tahu, kelakuan Mas ini telah menyakit hati Dila!”
“Maaf!” keluhku pelan.
“Maaf! Maaf saja gak cukup, Mas! Berhentilah! Dila memohon pada Mas, jika benar Mas menyayangi Dila? Mas jahat!”
Aku berdiri. “Bukankah selama ini Mas telah membuktikan kasih sayang itu pada Dila? Tapi Dila selalu menolak kehadiran Mas!” kerasku tak mau kalah.
“Kasih sayang apa?” isak Dila. “Mas hanya memberikan Dila materi. Tanpa Mas mau mengerjakan Ibadah. Dila butuh Imam bukan hanya sekedar harta!” serunya.
“Kenapa kamu tak katakan itu dari dulu?”
“Dulu! Sudah beratus kali Dila mengingatkan Mas akan hal itu. Tapi buktinya apa?” isak Dila mulai berkurang. “Mas lebih asyik berbohong dan sekarang baru Dila tahu, kalo Mas suka memakai obat terlarang.”
“Dila, Mas seperti ini karena telah lelah menunggu jawabanmu. Terus suasana keluarga Mas yang tak nyaman, membuat Mas lari.”
“Alasan kosong. Lari ke dalam pelukan Allah itu lebih baik, Mas. Bukan ke dalam alam mimpi yang dibuat oleh benda terlarang itu!” tunjuk Dila pada serbuk putih yang tercecer di kasur dan lantai.
“Maafkan Mas!”
“Hm, tak semudah itu. Berjanjilah pada Allah, Mas tak akan menyentuh barang haram ini lagi. Lalu segeralah mengerjakan segala amal ibadah Mas yang telah terbengkalai. Mungkin…”
“Mungkin apa?”
“Mungkin Mas benar-benar bisa menjadi Imam buat Dila,” jawab Dila tersenyum.
“Benarkah?”
“Ya! Asal Mas benar-benar bertobat dan belajar agama dengan tekun. Dila akan berikan Mas kesempatan lagi.”
Aku melompat kegirangan. Tanpa sadar aku meraih tangannya yang langsung ditariknya.
“Bukan muhrim, gak boleh!” jawabnya pelan.
Aku tersenyum. “Terus kok tadi tangan Dila mampir ke pipi Mas?”
Pipi Dila bersemu merah. “Maaf, Mas. Itu karena Dila begitu takut dan marah, hingga lepas kendali.”
“Takut kenapa dan marah kenapa?” kejarku.
“Takut Mas akan mati disebabkan benda terlarang itu. Kan, Mas belum jadi Imam buat Dila! Itu yang membuat Dila marah sama Mas,” terangnya.
Aku tertawa keras. Bahagia! Dila ingin aku jadi Imam baginya. Hm, saatnya bertobat dan melaksanakan Solat Asharku. Karena kebetulan Adzan telah masuk. Dila pun tersenyum senang, kala aku mengajaknya Solat bersama.
Oleh Angri
Label: Cerpen 0 komentar
Sabtu, 26 Februari 2011
Kuberikan Tanda Cinta Untukmu
Diposting oleh angri saputra di 01.05 Sabtu, 26 Februari 2011
Kupandangi boneka keramik berbentuk sepasang merpati putih kecil di etalase toko di depanku. Kata banyak orang, merpati itu lambang cinta suci. Karena itu, aku bermaksud untuk membeli boneka merpati tersebut. Sempat aku meragu, haruskah aku masuk? Sebabnya harga yang tertera tidak bisa kupenuhi. Uangku hanya 50 ribu, sedangkan harga yang dipasang 100 ribu, masih kurang setengahnya, jika aku tak salah hitung. Sempat aku meragu, haruskah aku masuk ke dalam dan mencoba menawar?
“Indah sekali sepasang merpati itu, ya?” suara asing terdengar dari samping kiriku.
Aku menengok, seorang pria berambut perak dan wajah keriput berdiri sejajar denganku. “Ya! Kakek tahu darimana, jika saya memandangi sepasang merpati itu?”
Kakek itu tertawa lepas. “Haha.. anak muda, Kakek dulu pernah muda. Dan seingat Kakek, dulu pernah memberikan hadiah seperti itu,” tunjuknya.
“Benarkah? Lalu apa yang terjadi, Kek?”
Kakek itu tersenyum penuh misteri. Lalu tangan tuanya merangkulku. “Kamu akan tahu sendiri, ketika kamu memberikannya pada dia yang kamu cintai. Apakah kamu suka dengan merpati itu?”
Aku menoleh dan menatap Kakek. “Sepertinya aku tak sanggup untuk membelinya, Kek!” gelengku. “Uangku tak cukup!”
Kembali Kakek itu tersenyum. Lalu dia masuk ke dalam toko. Dia berbicara dengan seorang pegawai dan pegawai itu dengan langkah tenang mengambil boneka yang kumau. Aku terkejut sekaligus berharap boneka itu akan menjadi hadiahku. Dan itu bukan mimpi.
Dengan langkah pasti, si Kakek mendekatiku. Di tangannya tergenggam boneka merparti dan tanpa menunggu lama, boneka telah berpindah tangan padaku.
“Ambilah, anggap saja ini rejekimu. Berikanlah pada dia yang kamu cintai dan menunggu kedatanganmu. Tapi ingat, kamu harus rela!”
Si Kakek pun pergi tanpa sempat aku bertanya, apa maksud perkataannya tadi?
Kini aku telah berada di kamar putih seukuran 4 x 6. Terasa luas, tapi begitu sempit. Di tengah-tengah ada ranjang kecil yang hanya cukup untuk satu orang. Dan di atas ranjang itu, terbaring sosok gadis yang kukenal lama. Aku pun berjalan mendekat. Mataku menatap haru. Tubuh gadis yang ingin kutemui hanya bisa terbaring diam dengan mata tertutup. Hidungnya dimasuki selang kecil sebagai pengantar oksigen ke dalam paru-parunya. Di tangan kanannya terpasang jarum infus Wajahnya terlihat begitu pucat, seakan-akan dirinya sudah tak ada lagi di dunia ini.
Aku berdiri di sebelah kanannya. Aku pandangi dirinya sedih. Tanganku merogoh kantong jaket dan mengeluarkan boneka merpati. Lalu dengan perlahan dan tangan gemetar, aku taruh boneka di tangannya yang lemas. Dan kukepalkan tangannya. Aku menunduk dan berbisik.
“Kuberikan tanda cinta untukmu, duhai kekasih hati sepanjang masaku. Aku menunggumu di sini dengan kerelaan dan berharap yang terbaik untukmu.”
Teeeet…
Aku terkejut, terpana sesaat. Kemudian kepanikan melandaku.
“Dokter… Tolong! Suster… Tolong!” teriakku bagai orang gila dan aku lupa, kenapa tak kupencet tombol merah tanda bahaya di atas ranjang.
Aku berlari keluar sambil terus berteriak. Hingga mengundang perhatian banyak orang, termasuk sepasang tua yang berlari ketakutan.
“Ada apa?” tanya mereka berebutan.
“Itu… Itu,” gagapku.
Pasangan itu pun meninggalkanku sendiri, karena mereka tak mendapatkan jawaban berarti dariku, yang tiba-tiba saja kelu. Lalu berturut-turut orang-orang berpakaian serba putih melewatiku dan memasuki kamar yang kutinggalkan sesaat lalu.
Lima menit berlalu. Aku masih berdiri kaku di luar kamar di depan pintu. Mataku terus mengawasi apa yang terjadi. Bibirku tiada henti berdo’a. Dan tanpa kusadari aku menangis. Tetes-tetes kecil air keluar dari mataku dan membasahi pipi. Hingga aku jatuh berlutut lemas. Saat pasangan tua di dalam kamar mulai menangis histeris dan wajah-wajah sedih dari mereka yang memakai seragam putih yang saling menatap.
Aku menunduk. “Kakek, apakah ini yang ingin kau sampaikan. Bahwa aku harus rela?”
“Indah sekali sepasang merpati itu, ya?” suara asing terdengar dari samping kiriku.
Aku menengok, seorang pria berambut perak dan wajah keriput berdiri sejajar denganku. “Ya! Kakek tahu darimana, jika saya memandangi sepasang merpati itu?”
Kakek itu tertawa lepas. “Haha.. anak muda, Kakek dulu pernah muda. Dan seingat Kakek, dulu pernah memberikan hadiah seperti itu,” tunjuknya.
“Benarkah? Lalu apa yang terjadi, Kek?”
Kakek itu tersenyum penuh misteri. Lalu tangan tuanya merangkulku. “Kamu akan tahu sendiri, ketika kamu memberikannya pada dia yang kamu cintai. Apakah kamu suka dengan merpati itu?”
Aku menoleh dan menatap Kakek. “Sepertinya aku tak sanggup untuk membelinya, Kek!” gelengku. “Uangku tak cukup!”
Kembali Kakek itu tersenyum. Lalu dia masuk ke dalam toko. Dia berbicara dengan seorang pegawai dan pegawai itu dengan langkah tenang mengambil boneka yang kumau. Aku terkejut sekaligus berharap boneka itu akan menjadi hadiahku. Dan itu bukan mimpi.
Dengan langkah pasti, si Kakek mendekatiku. Di tangannya tergenggam boneka merparti dan tanpa menunggu lama, boneka telah berpindah tangan padaku.
“Ambilah, anggap saja ini rejekimu. Berikanlah pada dia yang kamu cintai dan menunggu kedatanganmu. Tapi ingat, kamu harus rela!”
Si Kakek pun pergi tanpa sempat aku bertanya, apa maksud perkataannya tadi?
Kini aku telah berada di kamar putih seukuran 4 x 6. Terasa luas, tapi begitu sempit. Di tengah-tengah ada ranjang kecil yang hanya cukup untuk satu orang. Dan di atas ranjang itu, terbaring sosok gadis yang kukenal lama. Aku pun berjalan mendekat. Mataku menatap haru. Tubuh gadis yang ingin kutemui hanya bisa terbaring diam dengan mata tertutup. Hidungnya dimasuki selang kecil sebagai pengantar oksigen ke dalam paru-parunya. Di tangan kanannya terpasang jarum infus Wajahnya terlihat begitu pucat, seakan-akan dirinya sudah tak ada lagi di dunia ini.
Aku berdiri di sebelah kanannya. Aku pandangi dirinya sedih. Tanganku merogoh kantong jaket dan mengeluarkan boneka merpati. Lalu dengan perlahan dan tangan gemetar, aku taruh boneka di tangannya yang lemas. Dan kukepalkan tangannya. Aku menunduk dan berbisik.
“Kuberikan tanda cinta untukmu, duhai kekasih hati sepanjang masaku. Aku menunggumu di sini dengan kerelaan dan berharap yang terbaik untukmu.”
Teeeet…
Aku terkejut, terpana sesaat. Kemudian kepanikan melandaku.
“Dokter… Tolong! Suster… Tolong!” teriakku bagai orang gila dan aku lupa, kenapa tak kupencet tombol merah tanda bahaya di atas ranjang.
Aku berlari keluar sambil terus berteriak. Hingga mengundang perhatian banyak orang, termasuk sepasang tua yang berlari ketakutan.
“Ada apa?” tanya mereka berebutan.
“Itu… Itu,” gagapku.
Pasangan itu pun meninggalkanku sendiri, karena mereka tak mendapatkan jawaban berarti dariku, yang tiba-tiba saja kelu. Lalu berturut-turut orang-orang berpakaian serba putih melewatiku dan memasuki kamar yang kutinggalkan sesaat lalu.
Lima menit berlalu. Aku masih berdiri kaku di luar kamar di depan pintu. Mataku terus mengawasi apa yang terjadi. Bibirku tiada henti berdo’a. Dan tanpa kusadari aku menangis. Tetes-tetes kecil air keluar dari mataku dan membasahi pipi. Hingga aku jatuh berlutut lemas. Saat pasangan tua di dalam kamar mulai menangis histeris dan wajah-wajah sedih dari mereka yang memakai seragam putih yang saling menatap.
Aku menunduk. “Kakek, apakah ini yang ingin kau sampaikan. Bahwa aku harus rela?”
Label: Cerpen 0 komentar
Kamis, 20 Mei 2010
Bunga Mawar vs Bunga Bangkai
Diposting oleh angri saputra di 19.29 Kamis, 20 Mei 2010
Bunga Mawar bertanya pada Bunga Bangkai
"Kamu kok mau sih bau wangimu berbau busuk seperti ini?"
"Memang kenapa War?"
"Ih ... kok kenapa? Baumu itu busuk sekali, membuatku muak!!!"
"Ooo ... itu ya. Tapi, aku bersyukur kok. Karena bauku ini, aku dapat hidup dengan lebih tenang. Tidak seperti dirimu!"
"Kenapa dengan aku?"
"Wangimu wangi...."
"Itu benar!"
"Jangan kau potong pembicaraanku!"
"Maumu apa?"
"Aku mau, kau berhenti bersikap sombong! Kamu tahu, walaupun kau diberikan duri untuk menjaga dirimu. Tapi, kau itu lemah! Kau mudah tercerabut dari akarmu, wangimu mengundang banyak kumbang datang dan menghisap habis madumu. Dan kau akan menangis saat itu terjadi, saat para kumbang meninggalkanmu pergi."
"Oh ... kau ... kau ... kau...."
Label: Cerpen 1 komentar
Minggu, 25 April 2010
Habit or ?
Diposting oleh angri saputra di 05.42 Minggu, 25 April 2010"Kok, lo telat?"
"Biasalah, macet!"
"Serius? Bukannya tiap hari macet buat lo?"
"Eits ... gue udah berubah tahu!"
"Masa?"
"Lo kagak percaya sama gue?"
"Gimana gue mau percaya! Nih, baca SMS gue dari Ibu lo!"
Baru aja jalan anaknya, tadi 5 menit yang lalu. Dari : 0815xxxxxxxx Dikirim : 25 April 2010 19:10
"Sekarang udah jam 19:32. Janji kita itu jam 19.00. Lo udah telat lebih dari 30 menit."
"Ya, maaf deh!"
"Gue sih gampang aja maafin lo. Tapi, lo tuh kagak pernah mau berubah! Selalu telat! Kenapa? Kebiasaan lo? Atau lo malas? Atau bisa jadi memang lo kagak bisa menghargai waktu, diri lo dan teman lo?"
"Kok, lo marah sama gue?"
"Marah? Masa? Gue kagak marah, cuman kecewa sedikit. Tapi, percuma aja, lo kagak akan pernah berubah!"
"Lo kok jadi hakimin gue kayak gitu. Apa gak boleh gue berubah?'
"Boleh, Siapa yang ngelarang? Gue? Kagak berani! Hanya masalahnya, lo mau kagak berubah?"
"Hmm...."
"Udah gue pulang duluan, makan malam batal! Bisnis kita juga gagal! Besok kita ketemuan lagi dan besok lo harus hadir tepat waktu! Ingat, tepat waktu!"
Label: Cerpen 0 komentar
Rabu, 31 Maret 2010
Mak Irah
Diposting oleh angri saputra di 04.36 Rabu, 31 Maret 2010Mak Irah menhembuskan nafasnya. Ia sedang berada di sebuah pondok kecil di tepi sawah yang harus dijaganya. Masa panen hampir tiba, padi-padi yang menguning akan menjadi santapan empuk burung-burung. Mak Irah dengan tangan kurusnya menarik tali temali yang mengikat boneka sawah agar bergerak. Boneka sawah itu akan mengusir burung-burung yang berani datang mendekat tanpa Mak Irah harus turun dan menghela mereka dengan tubuhnya.
Hampir sepanjang hari di waktu siang, Mak Irah berjuang mempertahankan hidupnya dengan menjadi buruh tani bagi Juragan Anton. Sudah sekitar 30 tahun Mak Irah menjadi anak buah Juragan Anton yang terkenal loyal dan baik hati pada semua orang tapi pelit pada Mak Irah.
Perubahan sikap juragan Anton dimulai 5 tahun lalu, anak gadis Mak Irah yang bernama Santi ingin dipersuntingnya. Namun Santi menolak dengan alasan tidak mau menjadi istri yang ke-4 Juragan Anton. Mak-nya sudah berusaha membujuk dengan berbagai cara tapi tetap tidak diidahkannya. Puncaknya Santi keluar dari rumah sempit yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ditinggalkannya Mak Irah dalam kesepian dan kesedihan.
Mak Irah termenung saat mengingat kepingan masa lalunya yang begitu mengharu-biru hidupnya. Ia tidak bisa menyalahkan Santi, Juragan Anton pun tiada sanggup ia salahkan. Mak Irah hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa memberi pengertian yang cukup untuk Santi.
Wajah Mak Irah begitu sendu, awan hitam terlihat bergelayut manja di sinar matanya. Rona gelap raut mukanya tidak bisa disembunyikan walaupun ia tersenyum. Itulah yang membuatku sering mengunjunginya seminggu terakhir ini.
Seminggu yang lalu, aku baru saja menjejakkan kakiku di kampung di mana Mak Irah tinggal. Perjalananku kemari bukan bermaksud mengunjungi keluarga atau temanku, sebatas berpetualangan saja. Ketika itu aku melihat Mak Irah yang sedang duduk bertopang dagu. Matanya terlihat mengantuk tapi dirinya tidak. Dipaksakannya dirinya terus berjaga agar burung-burung tidak mempunyai kesempatan berpesta pora.
Karena melihat semangat Mak Irah, aku memutuskan mendatanginya. Sekedar bertegur sapa dan siapa tahu aku bisa menginap di rumahnya, itu pikirku awalnya.
“Selamat siang, Mak …,” sapaku sopan.
“Si … siang,” jawabnya terkejut.
“Mak sendiri saja? Kemana yang lain?” tanyaku.
“Kamu siapa, Nak? Mak tidak kenal kamu?” tanyanya balik tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku garuk-garuk kepala, betapa bodohnya aku tidak memperkenalkan nama terlebih dahulu.
“Aku Abdi, Mak. Mak sendiri siapa namanya?” tanyaku kembali sambil menyodorkan tangan.
“Irah … panggil saja Mak Irah!” ucapnya pelan sambil menggengam tanganku. Tangannya dingin sekali.
“Mak Irah sakit, ya?”
“Tidak,” jawabnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
“Tapi tangan Mak dingin sekali,” ucapku penasaran.
“Tangan dingin ini tidak seberapa, Nak Abdi. Dinginnya hati ini yang begitu menyiksa,” tuturnya dengan wajah yang tertunduk.
“Kenapa Mak? Bolehkah Abdi mendengarnya!” mintaku.
Mak Irah menatapku dengan bola matanya yang menampakan rasa penasaran dan ketidaksukaannya.
Aku yang baru dikenalnya berani meminta ia bercerita tentang masa lalunya. Berani sekali.
“Mak tidak usah takut! Abdi bisa menjaga rahasia itu.”
“Benarkah?”
Aku tersenyum dan menyentuh lembut tangan tua itu.
“Dengarlah…! Hati Mak begitu dingin sejak kepergian anak Mak satu-satunya, Santi. Dia pergi begitu saja tanpa mau membawa Mak-nya ini ikut serta. Hingga Mak harus seperti ini, dipandang hina dan rendah oleh orang lain.”
Mak Irah menghela nafasnya lalu ia menatapku memastikan apakah aku tertarik mendengar ceritanya atau tidak.
“Sampai sekarang, Mak sama sekali belum mendapatkan kabar darinya. Sepucuk surat atau salam tiada pernah datang. Sudah lima kali lebaran dia tidak pernah mengunjungi Mak, bersimpuh dan memohon ampunan. Mak rindu dengan kehadirannya, senyumnya dan tawanya.”
“Kenapa Santi pergi meninggalkan Mak?’
“Dia tidak mau Mak nikahkan dengan Juragan Anton pemilik sawah ini.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tega sekali anak itu, gadis itu, Santi. Dia meninggalkan Mak-nya sendirian dalam ketidakpastian.
“Lalu apa yang diperbuat oleh Juragan Anton, Mak?”
“Hehehe … dia … dia … dia marah. Tapi dia masih mau memperkerjakan Mak di sini tanpa adanya kenaikan upah.”
Mak Irah menatap langit yang mulai menghitam sesaat ia menutup ceritanya.
“Kejam sekali, kenapa dia melakukan itu Mak?’
“Karena dia yang mempunyai uang, dia yang berkuasa di sini. Namum … dia tidak akan pernah menguasai hidup Mak. Karena hidup dan nafas Mak hanyalah punya Sang Kuasa, Sang Pencipta.”
Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapan Mak yang terakhir itu.
“Nak Abdi, hari sudah sore. Mak harus segera pulang. Kamu mau ke mana?”
“Aku tidak tahu Mak. Aku harus tidur di mana. Rencananya aku ingin tidur di rumah Mak, tapi Mak hidup sendirikan. Abdi tidak berani, Mak.”
Mak Irah memandangku. Wajah kelamnya tersenyum lalu helaan nafas diikuti oleh ucapannya.
“Benar sekali, Nak Abdi. Kamu tidak boleh tidur di rumah Mak. Karena tidak ada sosok lelaki pun di rumah. Bagaimana kalo kamu tidur di mushola kampung ini saja?”
“Iya, Abdi baru saja berpikir seperti itu Mak. Tunjukan Abdi mana jalannya Mak!”
Akhirnya kami meninggalkan pondok di tepi sawah dan berjalan menjauh. Rumah Mak Irah tidak jauh dari sawah tempat dia menggantungkan hidup, tapi karena ia mau mengantarkan aku maka kami terus berjalan. Setelah mushola terlihat, Mak Irah meninggalkanku sendiri.
Semenjak itulah kami sering berbicara panjang lebar. Tentang kehidupan Mak Irah, tentang kehidupanku dan yang paling mengesankan tentang petuah-petuah bijaknya. Aku sangat senang dengan satu petuahnya, “Hidup ini bagaikan kepingan kaca yang berserakan. Jika kamu bisa menyatukannya maka hidupmu akan dibayangi oleh beragam kesuksesan. Jika kamu masih belum bisa berusahalah. Jangan tinggalkan kepinganmu di tempat di mana kamu menginjaknya. Jika sudah tidak lagi dipergunakan kepingan itu, buanglah sejauh mungkin hingga kamu tidak lagi mengingatnya.” Entah apa arti petuah itu, tapi aku suka sekali.
Sore itu, di mana aku belum sempat menemui Mak Irah di siang hari karena kebetulan aku membantu membersihkan mushola. Setelah selesai secepat kilat aku berlari ke tempat pertemuanku dengan Mak Irah. Sayangnya aku datang terlambat. Saat aku sampai Mak Irah melambaikan tangannya ke arahku bukan memanggilku lebih tepat lambaian itu seperti mengucapkan selamat tinggal. Mak Irah tersenyum manis sekali bersama wajahnya yang bersinar begitu cerah.
Aku percepat langkahku mengjenguknya lalu…
Tubuh tua Mak Irah berguncang, ia berteriak, “Allahu Akbar.”
Perlahan-lahan, mata tuanya menutup, hembusan nafasnya berhenti, detak jantung tiada terdengar. Aku berlari mengejar agar tubuhnya tidak jatuh ke atas bumi. Mak Irah meninggalkanku, meninggalakan berjuta kenangan dan petuangnya bagiku.
***
Malam itu aku menceritakan pengalamanku berada di kampung Mak Irah pada pacarku, Ranti. Gadis yang aki cintai tapi aku tidak tahu darimana asal-usulnya. Namun yang menjadi pertanyaanku, Ranti menangis sesaat aku selesai bercerita, bukan hanya menangis biasa saja. Tapi dia berteriak-teriak bagaikan orang gila. Apakah Ranti itu Santi?
Label: Cerpen 0 komentar
Kamis, 18 Maret 2010
Anak Kecil & Lelaki (Bapak & Suami)
Diposting oleh angri saputra di 21.52 Kamis, 18 Maret 2010
seorang anak kecil bermain di depan halaman rumah, tampak begitu gembira. Hingga datang seorang lelaki berusia kira-kira 30 tahun mendatangi halaman. Anak yang sedang asyik bermain itu berhenti, saat melihat kedatangannya.
Lelaki itu duduk di sebuah batu besar di bawah pohon belimbing. Anak yang tadi bermain, kini berjalan menghampirinya. Perlahan tapi pasti, anak itu mulai mendekat pada diri lelaki yang tampak lelah. Wajah lelaki itu tertutup oleh debu dan bajunya kusam lusuh.
Anak kecil itu tampak tidak canggung. Keberaniannya mendatangi lelaki yang tidak dikenalnya, karena baru pertama kali ini bertemu mengapungkan tanda tanya. Apakah anak itu benar berani atau hanya karena rasa penasarannya.
Semakin dekat, semakin jelas keletihan dari lelaki itu. Senyum yang keluar sepertinya hanya sebuah senyum pemanis biasa saja.
"Om, siapa? kenapa duduk di sana? Om, sepertinya letih?"
"Nak, aku hanya manusia yang sedang mencari. Tempat duduk ini masih lebih baik dari kursi yang ada di dalam ruangan. Om tidak letih, Nak."
"Om berbohong?"
"Apa? kenapa kamu bisa bilang Om berbohong, Nak?"
"Karena sebenarnya kursi yang ada di dalam ruangan itu adalah yang Om cari, kan? dan juga Om telah letih dalam berjuang, tapi tidak menemukan apa yang Om cari itu?"
"Oh... Katakan, Nak! apa maksud perkataanmu itu?"
"Sebelumnya, jawab pertanyaanku, Om! Apa yang Om cari? dan perjuangan apa yang telah Om berikan?"
"Om ini mencari apa yang dinamakan jalan menuju surga, Nak. Hingga Om rela meninggalkan semuanya. Anak-Istri, Om tinggalkan. Begitu juga harta kekayaan, Om. Om ingin apa yang dicari itu benar-benar datang karena perjuangan, Om sendiri."
"Wah... Om sudah gila, ya?"
"Gila...? kamu jangan buat Om bingung, Nak!"
"Iya, Om gila! Punya Anak-Istri tapi ditinggalkan begitu saja. Harta kekayaan, Om telantarkan begitu saja. Apakah itu bukan gila, Om?"
"Tidak, Nak. Om tidak gila. Ini perjuangan. Ini jalan yang Om yakini bisa memberikan Om jalan menuju surga. Karena kita kembali tidak membawa apa-apa, Nak."
"Aku setuju dengan apa yang Om katakan di akhir ucapan, Om. Tapi tidak yang pertama!"
"Kenapa? Apa yang kau ragukan?"
"Karena perjuangan Om yang sesungguhnya adalah mendidik Anak-Istri dengan ilmu yang bermanfaat. Bimbingan Iman yang bisa menambah keyakinan mereka atas apa yang Om yakini. Membelanjakan harta di jalan yang lebih baik. Coba bayangkan, Om! Apa yang mereka lakukan di sana, apa yang mereka kerjakan dengan harta yang Om tinggalkan?"
"Om tidak tahu."
"Ya, Karena Om bodoh. Buta oleh hawa nafsu sendiri yang menginginkan surga untuk diri sendiri. Apakah mereka akan rela jika hanya Om yang diberikan pintu surga. sedangkan mereka kehilangan arah dan pegangan mereka. Tidak, mereka akan meminta sebagian pahala yang Om miliki. Mereka akan berkata "Tidak Adil, Wahai KAU yang Maha Pengasih, Lelaki ini, Suami dan Bapak dari Anak-anakku hanya melakukan kewajibannya seorang diri saja. Tanpa mau memberikan kami sedikit Ilmu."
"Jadi apa yang harus Om perbuat, Nak?"
"Aku tidak tahu. Om yang lebih tahu mana yang terbaik. Keyakinan atas jalan yang Om tempuh ini atau Anak-Istri yang menunggu di rumah dengan doa mereka yang meminta perlindungan dan harapan pulangnya diri Om."
Lelaki itu tidak menjawab. Dia bangkit berdiri dan melangkah pergi. Kekerasan hatinya telah dikalahkan oleh seorang anak kecil. Apakah dia harus kembali? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Sedangkan, dia sudah mengatakan pada Anak-Istrinya bahwa dia akan pergi dalam waktu yang lama. Mencari jalan surga tapi melupakan kewajibannya sebagai Suami dan Bapak.
Anak kecil itu kembali bermain dengan asyiknya sepeninggalan lelaki itu.
Label: Cerpen 0 komentar
Minggu, 31 Januari 2010
Aku
Diposting oleh angri saputra di 01.08 Minggu, 31 Januari 2010
Aku.
Oleh: Angri
Aku bukan binatang yang bisa kau hela, dan usir sesukamu. Aku juga bukan sampah yang begitu mudah kau ludahi. Tidak aku bukan itu. Aku ini manusia, mahluk hidup sama sepertimu. Buka…, buka…, buka matamu. Jangan kau picingkan sebelah. Jangan kau berpaling. Lihat aku…, coba kau lihat aku. Aku berdiri dengan kedua kakiku. Tidak empat, apalagi merangkak. Kenapa…, kenapa kau masih sombong, dan tetap saja berpaling. Apakah karena kau merasa lebih tinggi dariku. Jawab…, ayo jawab.
Itulah yang aku rasakan saat ini, kecewa, sedih, dan juga marah. Dia, mereka tidak memandangku sebagai manusia seutuhnya. Padahal aku hidup, aku bernafas. Apa karena wajahku yang tidak rupawan menjadi penghalang, ataukah karena kebodohanku yang membuat mereka berpaling.
Aku tidak tahu harus marah pada siapa. Pada diriku sendiri…, itu tidak mungkin. Pada mereka…, aku tidak mau ada dosa dalam langkah hidupku. Pada Tuhan…, tidak aku tidak mau dikutuk.
Ya sudah, untuk apa aku harus memikirkan mereka. Hidupku masih teramat jauh untuk berhenti. Aku masih harus berjalan, dan berlari. Mengejar mimpi, harapanku. Mungkin sama dengan kalian semua. Tapi aku akan tetap berjuang, walau kalian tidak mengganggapku ada.
Sekali lagi aku bilang, aku bukan sampah. Jadi jangan kau ludahi aku. Jangan kau nilai aku dari apa yang ada di luarku. Lihatlah aku dari perbuatan yang aku lakukan. Bisakah kau melihatnya. Nenek tua itu menjadi saksi di mana aku membantunya menyeberang. Mungkin kau akan tertawa, karena itu bukanlah hal yang istimewa. Tapi bagaimana jika aku katakan aku menggendongnya. Ya aku menggendongnya. Menyeberangi jalan yang penuh sesak dengan mobil-mobil mewah berjalan hilir-mudik. Nenek itu aku gendong di atas punggungku. Tertawakah kau kini, atau kau akan bilang aku hebat.
Simpan pujianmu itu. Aku tidak butuh itu. Jangan kau samakan aku dengan mereka yang terlena, yang terbuai dengan segala pujian hingga kepala terdongak ke atas.
Apakah sudah cukup ceritaku ini untukmu, apakah kau mau yang lainnya. Cerita yang bisa membawaku bergabung dengan kalian. Katakan…, jawab…, kenapa kau diam.
Baiklah agar kau tidak bertanya lagi. Akan aku ceritakan semua itu. Satu persatu bagai rambut yang berguguran, atau bagai ombak yang menghantam pantai. Kau mau yang mana. Jawab…, ayo jangan hanya diam, lalu berpaling tertawa di belakangku.
Dulu…, dengarkan aku baru mulai. Jangan lari, diam di tempatmu. Duduklah, buka telingamu.
Dulu…, aku pernah menolong seseorang yang kelaparan, ya hal ini sudah biasa. Tapi bedanya…, dengar jangan kau tertawa terlebih dahulu. Bedanya aku memberikan uang yang seharusnya aku bayarakan untuk uang sekolahku yang sudah tiga bulan belum aku bayarkan. Aku berikan semuanya, ya semua uangku. Bisakah kau melakukan itu. Katakan…, bisakah kau.
Sekarang cerita yang lain. Sst…, diam dulu jangan berisik. Aku menolong satu keluarga yang tidak dapat makan pada hari itu. Sang Ibu berbohong dengan memasak bongkahan batu. Sang Ayah menipu dengan berkata ini adalah air susu, padahal itu air tajin. Mereka melakukan itu semua hanya ingin melihat senyum dari wajah anak mereka, dan tangis yang berhenti. Padahal di sekeliling mereka terdapat pagar-pagar yang tinggi. Di mana penghuninya mempunyai banyak emas, mobil, dan harta yang lain. Coba bayangkan. Kenapa harus aku yang tidak mempunyai apa-apa yang menolong. Aku berikan semua uang yang aku punya. Sedangkan uang itu untuk ongkosku bekerja. Hingga aku harus berjalan, dan menerima kenyataan terhentinya aku dari pekerjaanku. Tapi aku tidak peduli, untuk apa menyesal. Siapa yang gila…, aku atau mereka.
Menangislah…, ayo menangis. Sekarang apakah kalian masih tetap berpaling dariku. Tidak malukan kalian membiarkan aku sendiri. Ingat,dan catat aku ini orang yang baik. Mahluk yang tiada berpamrih dalam memberikan sesuatu. Menolong itu tugasku.
Apa…, kalian masih mau pergi. Kembali…, cepat kembali kataku. Aku masih akan bercerita untuk kalian. Dengar…, dengar…, dengar. Teriakku sudah berkali-kali, tapi kalian terus berjalan.
Hei..., kau kemarilah. Ya, kau. Duduk, dan dengarkan aku.
Tidak, kau menggeleng.
Kenapa, apakah aku terlalu kasar. Apakah aku tidak boleh memanggilmu kau. Bagaimana jika aku berkata sopan. Bagaimana jika aku memanggilmu Tuan.
Tuan…, kemarilah. Duduk bersamaku, aku punya sesuatu untuk diceritakan.
Tidak, sekali lagi kau bilang tidak. Padahal aku sudah berkata sopan, aku memanggilmu Tuan.
Sudah pergi sana, aku tidak butuh kau. Biarkan aku sendiri. Jangan kau ikat tubuhku ini, lepaskan…, lepaskan cepat. Aku larikan tubuh ini kembali. Ke dalam kamarku yang setia menemaniku. Di mana ada buku kecil sebagai teman yang mengerti aku. Bukan kau, atau mereka.
Oh…, bukuku. Aku kembali untuk menuliskan sesuatu. Apa…, sudah tidak ada lagi tempat untuk tulisanku yang baru.
Oh tidak…, jeritku sambil memegang keningku yang tiada panas. Mataku melotot melihat apakah ada sedikit saja ruang yang tersisa. Aku ingin berkeluh kesah, akan aku tuangkan semua rasaku. Ketemu…, aku menemukan ruang itu. Baiklah, bersiaplah. Akan aku cantumkan kau di dalamnya, sama seperti dulu. Akan aku caci maki kalian, karena menghiraukan aku. Tidak peduli padaku. Ha…, Ha…, Ha…, aku puas.
Tapi…, aku pukul-pukulkan penaku. Aku corat-coret kaca dengan penaku. Aku tiup penaku, dan semua usaha itu tiada berhasil. Penaku tidak dapat aku ajak bekerjasama. Dia macet, mati…, oh apakah kali ini aku tidak bisa membuat, dan memuat keluh kesahku.
Ya sudah, lebih baik aku tidur saja. Akan aku proses mimpiku. Aku akan menjadi raja, penguasa, dan pemimpin bagi kau. Ha…, Ha…, Ha…, aku akan bisa memerintah kalian semua. Terutama kau, akan aku jadikan punggungmu sebagai alas kakiku. Akan aku jadikan kepalamu sebagai pijakan kakiku. Akan aku buat kalian menangis, menjerit, dan memohon ampun. Aku berkuasa dengan mahkota dikepalaku, dengan cambuk di tanganku yang siap mencambukmu. Cepat kau berbuat salah. Tidak sabar aku ingin membuat punggungmu berdarah, terkoyak, teriris kulitnya.
Dengan masih tertawa aku tertidur. Berharap semua yang aku pikirkan terwujud. Dan itu terbukti, aku berhasil. Kau menangis, kau kalah. Tawaku semakin keras sampai…, kau berdiri. Aku terkejut, bukan karena kau berdiri, tapi suara itu. Suara keras, dan ramai di luar gerbang istanaku.
Hei…, Pengawal cepat lihat ke depan, cari tahu ada apa. Pengawal…, oh. Aku lupa, dalam rencanaku tidak ada pengawal dalam istana ini. Aku sendiri, ya aku sendiri. Dan kau tertawa penuh kemenangan. Kemanakah aku harus berlari. Keluar jelas aku tiada sanggup. Semua pintu telah tertutup, terjaga oleh banyaknya orang-orang di luar sana. Aku bingung…, aku bingung. Aku berlari memutari ruangan, mereka belum masuk kemari. Tapi kau tertawa, ya kau terus tertawa. Baiklah, aku akan bersembunyi di bawah kursiku. Jubah yang aku pakai akan menutupi tubuhku. Aku yakin itu. Di sini aku akan aman, tidak akan ada mata yang bisa melihatku. Tapi tangan kau menarikku. Kau seret aku keluar, kau lemparkan aku ke tangan-tangan di bawah sana yang bersiap menyambutku.
Panggung hukuman telah berdiri, dan tiang itu telah terpasang. Apakah itu untuk diriku. Ingat aku rajamu, aku pemimpinmu. Kalian tidak dapat melakukan ini. Kau…, kemarilah kau. Apakah kau yang membuat kudeta ini. Jawab…, katakan…, oh kau tersenyum.
Tidak…
Aku terbangun dari mimpi buruk yang begitu menyiksa, membuat jantungku berdegup kencang. Peluh membasahi tubuh, kasur basah oleh keringatku. Aku terduduk di tepi ranjang. Memandang kosong bintang-bintang malam. Mereka begitu indah terlihat. Tidak ada dorong-mendorong, tidak ada kata-kata kasar yang terdengar. Aku iri, aku iri dengan semua itu.
Aku berjalan keluar dari kamar, menuju dapur mengambil segelas air putih. Aku ingin rasa cemas ini cepat menghilang. Deg…, tidak.
Rasa cemasku tidak menghilang, bahkan jantungku lebih cepat berdetak. Apakah air ini telah teracuni. Apakah kau yang membuatnya. Oh…
Akhirnya malam berakhir, pagi begitu riang menyambut tugasnya. Dan aku terbangun dari atas lantai di dapur. Ternyata semalam aku tertidur di sini. Aku bersihkan tubuh yang penuh debu, dan berharap kesucian akan aku dapatkan. Aku tersenyum, ya senyumku begitu manis. Hari ini aku akan kembali berbuat baik. Dan akan aku ceritakan kepada kau, kalian, atau mereka.
Kali ini kau akan menerimaku dengan baik. Aku percaya itu. Karena aku akan membantumu kali ini. Akan aku buat kau membutuhkanku, memujiku. Ha…, Ha…, Ha…, dan tawa kemenangan akan menjadi miliku.
Aku langkahkan kaki dengan tegap, dadaku busungkan,kepalaku terangkat tinggi. Hari ini aku menanti saat dimana kau akan terjebak, kau kesulitan. sabarlah aku akan datang untuk menolongmu.
Sabar…, ya aku harus sabar menunggu. Sedetik tidak cukup, semenit akan aku tunggu, sejam biarlah aku menanti. Kau terlihat berjalan sendiri. Terburu-buru, lalu bum…, kau terjatuh.
Hore…, kali ini aku akan membantumu. Bersiaplah kau memujiku, memintaku menjadi temanmu. Aku berlari cepat, menolongmu, menarik tanganmu. Aku bereskan barang bawaanmu yang tercecer di atas jalan. Aku kebutkan celana, dan bajumu yang kotor. Tiada akan aku biarkan kau meringis sakit. Aku tuntun kau ke pinggir jalan, dan aku keluarkan segelas air yang tertutup plastik yang telah aku siapkan.
Sekarang ayo…, ucapkan kata itu. Terima kasih darimu aku nantikan. Bukalah mulutmu, dan katakan betapa baiknya aku padamu. Cepatlah aku tidak sabar.
Apa…, kau berpaling dariku. Bahkan matamu pun tidak mau melihatku. Hei…, lihat kemari, ini ada aku yang berdiri. Huu…, sombong sekali kau, tidak mengakui kebaikkanku. Tidak, menyerah tidak ada dalam kamusku. Akan aku ikuti kau terus. Kemanakah kau berjalan akan tetap aku ikuti. Tidak peduli ke gerbang neraka sekalipun. Karena aku butuh pengakuanmu. Ucapkan…, teriakan…, aku baik, aku baik, aku baik.
Aku terhenti, ya aku terhenti. Tidak dapat aku mengikutimu, kau menghilang. Bahkan mencari bayangmu pun aku tiada sanggup. Celaka…, kau tidak ada. Padahal kau belum mengucapkan kata itu. Aku rasa ada awan hitam yang menutup bayangmu itu. Detak nafasmu tidak juga aku dengar. Tulikah aku, butakah aku.
Ya sudah, aku kembali saja. Biar esok aku akan datang, dan membuatmu tersenyum. Bukan meludahi, ataupun berpaling dariku. Setapak demi setapak aku berjalan menyusuri setiap langkah yang tadi aku lalui. Tiba-tiba, mataku tertumbuk pada sebuah cermin. Cermin ajaib…, ya bisa dibilang begitu. Karena di cermin itu bukan bayangku yang terlihat, tapi ada kata-kata yang terangkai.
Aku baca kata itu, dan aku terkejut. Terasa ada sebuah tangan yang menampar wajahku. Kata itu menyindirku. Aku begitu terpukul salahkah segala tindakan yang dulu aku lakukan. Aku membantu, dan menolong seseorang hanya demi sebuah pujian. Hingga nanti aku bisa sombongkan dihadapan kau, kalian, dan mereka. Benarkah ini.
Aku bertanya pada hatiku, dan itu benar. Ya itu benar, aku butuh pujian. Aku sombong…, aku angkuh…, aku…
Pantas saja kau tidak mau menyentuhku, kalian tidak menghargaiku, mereka tidak menerimaku. Semua karena kesalahanku sendiri. Apa yang harus aku lakukan. Langit katakan padaku, angin bisikan padaku, bumi teriakan padaku, apa yang harus aku perbuat.
Aku terus berjalan dalam sepiku, dalam kalutku. Ternyata selama ini aku salah, aku lakukan kebaikan itu hanya demi pujian. Oh…, tidak.
Tidak terasa langkahku semakin jauh. Rumahku mulai menghilang di kejauhan. Dan aku tetap terpekur dalam kesedihan atas salahku, hingga…, buk…, sebuah truk besar menghantam kepalaku. Aku terkapar dengan darah yang keluar, otakku tercecer keluar, dan sebait kata terlukis di atas jalan.
Aku sombong, dan penuh keangkuhan.
Tubuhku tidak lagi dapat bergerak, mataku melihat sosok malaikat mau yang berwajah seram, dan nafas terhenti. Aku mati dalam kesombonganku, dan tersiksa di sini. Rohku hanya dapat melihat kerumunan orang yang melihat tubuh yang tiada bergerak lagi. Mereka hanya melihat tanpa mau berbuat. Riuh rendah suara yang aku dengar.
“Wah…, kematian tragis bagi si orang sombong. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi kita.”
Suara itu mengakhiri semua ceritaku ini. Dan sekarang kau, kalian, dan mereka dapat mendengar teriakan kesakitan atas siksa yang aku dapati.
Label: Cerpen 0 komentar
Jumat, 29 Januari 2010
Air Mata Mala
Diposting oleh angri saputra di 00.16 Jumat, 29 Januari 2010
Air Mata Mala
Oleh : Angri.
Mala kini tidak sama seperti dulu, ia berubah. Tidak ada lagi keceriaan, dan senyum yang terpancar begitu indah dari wajahnya. Kini yang ada hanya wajah penuh duka, dan tawa yang menyeramkan. Ya, Mala telah berubah menjadi gila. Seluruh penduduk kampung tidak akan pernah menyangka perubahan Mala. Gadis yang dikenal dengan kelembutan, keramahannya ini, berubah menjadi monster ganas. Ia bisa dengan mudah menggigit, menjambak, memukul siapa saja yang bisa ditemuinya. Karena alasan itu, sebuah kandang di belakang rumahnya menjadi tempat tinggal bagi Mala. Makan, dan buang air dilakukannya di kandang tersebut. Kakinya terbelenggu, dan tangannya diikat oleh kain yang ujungnya membelit kencang di sudut kandang. Semua ini dilakukan untuk mencegah Mala menyakiti orang lain, atau dirinya sendiri.
Malam menjadi cerita yang mencekam bagi penduduk kampungku. Teriakan Mala yang meminta mati membuat telinga penduduk kampung terusik. Apalagi terkadang diikuti oleh pekik suara burung hantu. Udara malam yang dingin membuat urat setiap penduduk menegang, menunggu sebuah kabar yang teramat buruk yang mungkin saja akan hadir di pagi hari nanti. Kabar tentang kematian Mala.
Berita itu aku terima sesaat aku menapakkan kaki di batas gapura menuju kampungku. Tidak ada tukang ojek yang dapat membawaku pulang ke rumah dengan cepat. Padahal rumahku lumayan jauh dari sini, sekitar satu kilometer lagi. Panasnya matahari membuatku enggan berjalan kaki. Apalagi jalan di kampungku bukanlah jalan aspal seperti di kota-kota besar. Ya, kampungku termasuk salah satu kampung yang belum mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah daerah.
Aku sedang berteduh di pangkalan ojek yang ada di sekitar gapura kampung. Bagaikan sebuah patung aku terduduk diam, tiada yang dapat aku ajak bicara. Sekitar sepuluh menit, aku terdiam hingga telingaku mendengar deru laju suara mesin motor. Mudah-mudahan itu tukang ojek yang aku tunggu. Tapi setelah suara motor itu mendekat, seraut wajah yang begitu kukenal memenuhi ruang mataku. Bayu, ia bukan tukang ojek, tapi ia seorang pemuda di kampung yang mencintaiku. Oh, tidak. Pastinya ia akan menawariku ikut dengannya.
Bayu menghentikan motornya tepat di depanku. Ia begitu senang saat melihatku kembali lagi. Ya, selain aku kuliah ke Jakarta, alasanku yang lain adalah meninggalkan Bayu dengan cintanya.
“Raras. Kamu Raraskan. Apa kabar cantik?”
Bayu selalu memanggilku cantik, padahal jika dibandingkan dengan gadis lain aku tidak secantik itu. apalagi jika aku bersanding dengan Mala, wah bagaikan langit, dan bumi. Aku pendek, dan Mala tinggi semampai. Aku tersenyum mendengar ucapan Bayu.
“Hai Bayu. Apa kabar?”
“Bertambah semangat dong Ras.”
Bayu turun dari motornya, dan berjalan mendekat. Hatiku berdegup kencang. Bayu sudah berubah. Dulu ia tidak setampan, dan segagah ini. Ia bertubuh kering kerontang, berjerawat, dan juga berambut gondrong tidak terurus. Tapi sekarang, badannya penuh isi, urat tangannya menandakan ia bekerja keras untuk hidupnya. Rambut gondrongnya kini dipotong habis, dan wajahnya kini bersih dari jerawat.
“Bayu, kamu sudah berubah ya?”
“Tentu dong Ras. Semua orang akan berubah suatu saat nanti. Betul kan?”
“Betul banget.”
“Oya, kamu sudah lama di sini Ras?”
“Sekitar sepuluh menit nih.”
“Apa kamu mau aku antarkan pulang? Tenang saja tidak perlu bayar.”
“Bener nih Bay. Aku tidak perlu bayar?”
“Iya dong. Kamu kan masih yang tercantik di mataku.”
“Gombal ya.”
“Mau sekarang apa nanti nih? Kalo sekarang ayo kita berangkat, tapi kalo nanti…”
Bayu menghentikan ucapanya. Ia sepertinya sengaja membuatku bertanya padanya.
“Kalo nanti, kenapa Bay?”
“Aku mau bercerita, dan bertanya padamu?”
“Kalo gitu nanti aja deh.”
“Baiklah.”
Bayu mengeser duduknya dekat padaku. Hatiku yang berdegup kencang tadi, kini bagaikan mesin yang tidak dapat berhenti. Wangi tubuh Bayu yang dulu kecut kini berganti aroma parfum yang bisa dibilang tidak murahan.
“Ini semua tentang Mala. Sebelumnya aku mau tanya, cantik kenalkan dengan Indra?”
“Kenal. Indra bukannya pacar Mala tuh?”
“Tepat sekali. Tapi sekarang tidak lagi.”
“Kenapa?”
“Kini Mala sendiri Ras. Oya, kamu pernah melihat Indra di Jakarta?”
“Tidak.”
“Ya, sudahlah. Lagipula Indra bukan lelaki yang baik.”
“Ada apa sebenarnya antara Mala, dan Indra, Bay?”
“Dosa Ras, Dosa.”
Indra, aku kenal nama ini. Lelaki yang kukenalkan pada Mala dengan maksud agar mereka dapat menjadi sepasang kekasih. Kini aku mendengar kata dosa dari mulut Bayu. Apa yang telah mereka lakukan.
“Mala kini terpasung Ras. Setahuku ia dipasung karena kedua orang tuanya tidak mau Mala meyakiti orang lain. Tapi menurut kabar berita yang kudengar, itu semua karena Mala menggugurkan kandungannya.”
Aku terkejut, rasanya gelegar petir tidak akan dapat membuatku terkejut seperti ini. Benarkah Mala menggugurkan kandungannya. Bukankah Mala waktu aku tinggalkan dulu belum menikah.
“Apa Mala sudah menikah Bay?”
“Itu dia masalahnya Ras. Mala belum menikah.”
“Kalo belum menikah, kenapa Mala bisa hamil?”
“Ras, gimana sih. Kamu bukan anak kecil lagi kan. Pastinya sama Indra lah. Buktinya Indra menghilang, dan Mala dipasung.”
Kembali rasa terkejutku datang. Mala, kenapa kamu berbuat sejauh ini.
“Gimana Ras. Kamu mau aku antarkan pulangkan?”
“Baiklah Bay.”
Akhirnya aku pulang diantarkan Bayu. Sepanjang perjalanan pikiran, dan rasa bersalahku muncul. Ya, aku mengenalkan Mala dengan Indra. Jika aku tahu akan seperti ini, tidak akan aku mempertemukan mereka berdua. Motor Bayu berjalan menembus jalan, dan menciptakan debu berterbangan di sekitar wajahku. Tidak berapa lama aku sampai di rumah.
“Mampir dulu Bay!”
“Tidak usah deh Ras. Aku ada kerjaan nih. Sampai ketemu nanti ya.”
“Ya sudah. Terima kasih ya Bay.”
Bayu meninggalkan aku di depan pagar rumahku. Dengan tas di punggung aku melangkah masuk. Hanya ada Bapak yang sedang duduk di teras rumah. Wajah Bapak gembira melihatku. Tapi aku tidak melihat Ibu. Setelah mencium tangannya, aku bertanya pada Bapak.
“Ibu mana Pak?”
“Oh, Ibumu sedang ke pasar. Masuk dulu sana, taruh tasmu ke dalam. Sebentar lagi Ibumu pulang.”
Aku masuk ke dalam kamarku. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti enam bulan yang lalu. Di kamar ini pernah menjadi saksi bisu atas rencanaku mempertemukan Mala, dan Indra. Air mataku meluruh jatuh membasahi kedua pipiku. Cepat aku menyekanya, aku tidak mau saat Bapak, atau Ibu tiba-tiba masuk kamar melihatku menangis. Mereka nanti akan ikut bersedih.
Setelah merapikan barang bawaanku. Aku keluar kamar, dan menemui Bapak di teras rumah. Kami bercerita banyak hal, tentang kerinduan, dan kemajuanku dalam belajar. Topik pembicaraan kami berdua mengarah pada peristiwa Mala. Bapak banyak bercerita padaku, dan tiba-tiba ia memintaku untuk mengunjungi Mala.
“Ras. Kamu pergi sana bertemu Mala. Semoga kedatanganmu bisa memecahkan misteri Mala. Kamu kan teman baiknya, tidak usah menunggu Ibumu pulang.”
“Tapi Pak…”
“Sudah pergi saja Ras. Bapak akan marah kalo kamu masih di sini. Siapa tahu waktu Mala melihatmu, ia akan gembira.”
Sebenarnya aku masih belum sanggup bertemu dengan Mala, tapi Bapak memintaku pergi. Berat rasanya langkah kakiku untuk berjalan menuju rumah Mala. Setengah terpaksa aku berjalan, bukan maksudku untuk menghindari Mala. Aku pasti akan bertemu dengannya, tapi bukan saat ini. Aku masih butuh istirahat, perjalananku pulang cukup melelahkan ditambah dengan kabar berita ini. Sekitar lima menit berjalan, aku sampai ke rumah Mala. Di depan rumahnya tidak ada siapa-siapa, tapi hatiku berbicara untuk berjalan ke belakang rumah Mala. Ternyata benar, di sana ada Ibunya Mala yang baru saja keluar dari dalam tempat di mana Mala terpasung. Di tangan wanita yang menampakkan wajah kesedihan itu, tergenggam sebuah piring kosong.
“Ibu…”
“Raras. Kapan kamu sampai nak? Oh, Mala akan senang sekali jika melihat kamu.”
Wajah tua Ibunya Mala mencoba tersenyum, sebuah harapan muncul dari senyum itu.
“Baru saja Bu. Mala ke mana Bu? Raras ingin sekali bertemu dia.”
“Mala…, kamu sudah mendapatkan kabar itu kan Ras?”
Aku mengangguk pelan, tidak enak rasanya harus berbohong pada orang tua yang berdiri di depanku ini.
“Kamu mau masuk Ras? Mala akan senang sekali jika bertemu denganmu.”
“Jika Ibu tidak keberatan.”
Wanita tua itu kembali ke depan pintu kandang di mana Mala dipasung. Kaki tuanya menapak anak tangga kayu yang akan membawanya ke depan pintu. Aku mengikuti dari belakang. Pintu itu terkunci, jelas sekali kedua orang tua Mala tidak mau terjadi apa-apa padanya.
“Masuklah Ras! Ibu tinggal kamu berdua ya.”
Aku menganggukan kepala lagi, kali ini dengan wajah yang gembira.
Mataku menatap nanar ruangan yang bekas kandang ini. Di tengah ruangan terlihat Mala yang sudah berubah, hampir-hampir aku tidak lagi mengenali wajah cantiknya. Kedua kaki Mala dipasung di tengah kayu yang berukuran besar. Kaki itu kini terlihat mulai mengecil, tidak ada lagi betis indahnya itu. kedua tangan Mala terangkat ke atas, dan terikat kain yang memisahkan tangan itu dari tubuhnya. Sepertinya berfungsi mencegah Mala melukai dirinya sendiri. Baju yang dipakainya lusuh, dan berbau pesing. Tampaknya kegiatan buang air dilakukan Mala di kandang ini. Tapi yang membuatku takut adalah tatapan mata Mala yang penuh kebencian, ditambah lagi rambutnya yang berantakan.
Mala berteriak saat melihatku. Ia sepertinya mengenalku, dan marah sekali padaku.
“Untuk apa kamu kemari? Pergi…!”
“Mala ini aku Raras.”
“Siapa?”
“Raras.”
“Ha…, Ha…, Ha…, kamu Raras. Bukan, Raras sudah mati bagiku.”
“Mala, benar ini aku Raras.”
“Hmm…”
Suasana berubah sunyi, dan tenang. Mata Mala masih menatapku tajam, sinarnya seakan-akan mencoba memasuki relung hatiku. Sinar mata itu begitu menakutkan, sepertinya diriku dikuliti oleh sinar mata Mala. Aku mencoba mendekat, dan berharap sentuhan tanganku akan memberikan ketenangan.
Mala menatap bimbang padaku. Ia sepertinya mengenalku. Tapi aku salah.
“Pergi…! Jangan kau mendekat padaku. Bukankah kau sudah mencampakanku. Pergi kau lelaki buaya, tidak bertanggung jawab. Aku benci kamu Dra. Aku benci…”
Mala berteriak gusar, suaranya melengking tinggi. Telingaku seperti ditusuk-tusuk jarum yang banyak sekali. Tapi aku coba bertahan, tetap aku dekati Mala. Kenapa aku harus takut, kedua tangan Mala terikat. Di tengah kegusaran Mala, dan wajah ketakutannya aku melangkah semakin dekat. Aku peluk Mala, dan tiba-tiba Mala menggigit tanganku. Sakit sekali rasanya, untungnya tidak ada darah yang keluar dari tanganku. Cepat aku tarik tangan itu.
“Mala ini aku Raras.”
“Raras.”
“Ya, Raras."
Mala terdiam, matanya lekat mengarah padaku. Ia mencoba mengingat bentuk wajahku, keningnya berkerut, dan tiba-tiba ia tersenyum.
“Kamu Raras.”
“Iya La. Kamu sudah ingat aku kan?”
“Sudah Ras. Oh, Ras.”
Mala menangis, air matanya turun dengan deras. Suara raungan Mala begitu memilukan, membuat hatiku tercekat. Tangisan itu masih belum ada tanda-tanda akan berhenti. Aku beranikan diriku untuk sekali lagi memeluk Mala. Kali ini berhasil, tidak ada perlawanan dengan gigitannya. Kami menangis berdua, dan suara Mala pelan berbisik padaku.
“Kenapa kamu baru datang Ras? Kenapa kau datang disaat aku seperti ini?”
“Maafkan aku La. Aku telah membuatmu seperti ini.”
“Kamu tidak salah Ras. Ini semua salahku, dan Indra.”
“Tapi aku yang mempertemukan kalian berdua kan La.”
Mala terdiam, ia tidak membalas ucapanku.
“La. Ceritakan padaku La, kenapa kamu seperti ini?”
Mala tetap terdiam, dan ia kembali menangis.
“Maafkan aku La. Jika kamu tidak mau bercerita, jangan kamu ceritakan padaku!”
“Tidak Ras. Tidak apa-apa. Kamu mau mendengarkan cerita itu Ras?”
Aku memberikan anggukan kepala padanya.
“Baiklah Ras.”
Mala mulai menceritakan masalahnya dengan Indra. Setelah pertemuan pertama dengan Indra, Mala begitu senang. Ia merasakan jatuh cinta pada Indra. Kebetulan Mala memang belum pernah berpacaran, jadi bisa dibilang Indra pacar pertama, dan terakhirnya. Mereka berdua memadu kasih sayang yang begitu indah, hingga saat aku pergi ke Jakarta. Kepergianku ke Jakarta membuat mereka mulai berani bertindak lebih jauh. Karena sebelum aku pergi, Mala selalu memintaku menemaninya saat bertemu Indra. Dan kejadian memalukan, sekaligus dosa besar itu terjadi. Pertama kali mereka melakukan perbuatan terkutuk itu, di rumah Mala yang sedang sepi. Setelah itu berlanjut di banyak tempat. Terkadang di rumah Indra, Maupun di kebun kosong. Sampai tiba waktunya Mala terlambat bulan, ia menyampaikan kabar ini pada Indra. Indra terkejut sekali, apalagi saat Mala memintanya bertanggung jawab. Indra menolak, dan merayu Mala untuk menggugurkan kandungan itu yang berumur kurang lebih dua bulan. Awalnya Mala menolak, tapi Indra tetap merayunya. Keteguhan hati Mala dikalahkan oleh bisikan kata halus Indra. Dukun urut kampung sebelah yang akhirnya menjadi juru selamat bagi perbuatan penuh dosa, dan terkutuk yang mereka lakukan. Tapi Mala menyesalinya, ia merasa berdosa sekali. Dosanya melakukan perbuatan yang belum saatnya itu belum lagi terbayarkan dengan tobatnya, sekarang ia harus membunuh bayinya sendiri. Sakit sekali proses menggugurkan kandungan Mala itu.
Setelah proses itu selesai, sehari kemudian Indra meninggalkan Mala tanpa jejak. Dengan mudahnya Indra melempar tanggung jawab, dan lari bagaikan pengecut. Mala bingung, dan penyesalannya bertambah. Dan dimulailah perubahan itu, Mala berubah menjadi gila. Ternyata kejadiannya belum terlalu lama, baru sekitar dua minggu sebelum kedatanganku.
“Ras. Kamu mau kan merahasiakan semua itu. Pesanku padamu Ras, jangan ikuti perbuatanku ini. Jika kamu mencintai seseorang jaga dirimu, jangan sampai rayuannya membuatmu menyesal. Jangan sampai karena kelakuan pengecut, dan liciknya membuatmu tersiksa Ras. Cukup aku saja yang menjadi korbannya. Jaga kehormatan dirimu Ras. Aku mohon Ras, jangan ikuti aku.”
Aku hanya bisa diam, dengan air mata yang mengalir turun dengan derasnya.
“Ras. Aku telah salah dalam melangkah, dan menilai. Bukan kamu yang bersalah, tapi aku Ras. Aku…”
Aku tidak dapat menjawab, hanya bisa menatap mata Mala.
“Ras. Sekali lagi dengarlah pesanku. Cintailah pria karena imannya, bukan karena ketampanannya saja. Pilihlah pria yang berlaku benar dengan ilmunya, bukan karena kebaikan mulutnya. Sayangilah pria yang bisa menjagamu dari perbuatan buruk walaupun kamu suka akan hal itu, bukan yang hanya memujimu saja. Ikatlah tali kasihmu pada pria yang mampu menjaga kehormatan dirimu, dan dirinya serta bisa membimbingmu, bukan hanya karena banyaknya harta, dan rayuan gombalnya saja.”
“Ya La. Terima kasih atas nasihatmu. Aku akan berusaha La.”
Mala terdiam, ia tidak menjawab. Aku mencoba mendekati tubuh Mala, tapi tidak ada nafas yang kudengar. Oh, tidak. Aku panik, dan berlari keluar sambil berteriak meminta pertolongan. Penduduk kampung berdatangan termasuk Bapak, dan Ibu yang baru kulihat. Mereka semua bertanya apa yang terjadi. Aku tidak mampu menjawab, hanya jari telunjukku saja yang memberikan keterangan untuk melihat ke dalam kandang. Ibu, dan Pamannya Mala cepat berlari masuk ke kandang yang menjadi tempat Mala dipasung, diikuti oleh penduduk yang lain. Teriakan penuh rasa kaget, dan haru silih berganti datang dari kandang itu. Mala sudah tiada, sudah tidak bernafas.
“Mala sahabatku, apa yang terjadi padamu sungguh tragis. Belum sempat kamu berkata tobat, memohon ampunan. Mala, apa yang telah kamu berikan tadi akan menjadi pesan yang akan selalu teringat di sanubariku. Aku akan memilih pria seperti apa yang kamu sarankan, bukan seperti Indra, atau pria jahat yang lain. Selamat jalan sahabatku, Mala. Semoga kamu diampuni, dan diterima dengan baik segala amalanmu selama ini,” ucapku dalam hati mengiringi keluarnya tubuh kurus Mala dari dalam ruang ia terpasung selama dua minggu ini.
Label: Cerpen 0 komentar
Rabu, 27 Januari 2010
kembang kota
Diposting oleh angri saputra di 22.26 Rabu, 27 Januari 2010
Oleh : Angri.
Aku sedang duduk di sebuah halte, dimana hanya ada diriku sendiri dibangku panjang ini. Aku bermaksud pergi ke tempat bimbingan belajarku, ini adalah hari pertamaku, dan terlambat tidak ada dalam pikiranku. Tapi waktu sepertinya enggan bersahabat denganku, 21 menit sudah diriku terpaku dibangku panjang ini. Gelisah menyerangku, doa tiada henti mengalir agar angkutan kota yang mengantarku ke sana segera datang.
Saat kegelisahan, dan kecemasaku memuncak. Hidungku mencium aroma parfum yang begitu menggoda, ku berpaling ke kiri mencari tahu siapa yang memakai parfum yang kutaksir pasti berharga mahal. Seorang cewek cantik berbaju hitam yang kontras sekali dengan warna putih kulit tubuhnya berdiri tak jauh dari tempatku terduduk. Ia membawa sebuah tas besar di tangan, sayangnya hanya sekilas bagi mataku dapat melihat wajah cantiknya. Sekilas saja bagiku sudah cukup untuk memberikan nilai hampir sempurna untuk kecantikannya. Dagu lancip terbelah, bibir tipis, dan hidung kecil mancung menjadi daya tarik pesona yang begitu besar menarik hati siapa saja yang memandang. Rambut pendeknya tidak dapat menutupi leher jenjang miliknya. Ia cantik, dan menggodaku.
Sempat pikiranku meminta kaki ini berdiri, dan meninggalakn bangku panjang yang selama, 21 menit tadi begitu setia menemaniku. Tapi keraguan hadir dalam diriku, bagaimana jika nanti cewek itu menolak kehadiranku dalam hidupnya. Apalagi jika bisa dibilang wajahku tidaklah seperti Arjuna. Aku hanya seorang cowok yang beruntung masih dapat menghirup dengan bebas oksigen yang dibutuhkan oleh paru-paru, dan jantungku. Sesaat keberanianku muncul, dan bersiap untuk menghampirinya. Sebuah mobil sedan berwarna hitam mewah berhenti di depannya. Kaca mobil itu terbuka, dan seraut wajah tua tersenyum. Cewek itu berjalan perlahan, tangan kecilnya dengan lembut membuka pintu mobil. Sebelum pikiranku bermain, mobil itu pergi berlari meninggalkanku sendirian lagi.
Siapakah cewek itu, kenapa ia naik mobil sedan itu, dan siapa orang tua yang ada di mobil itu, apakah ayah, atau pamannya. Kenapa pikiranku bermain teka-teki tentang cewek itu ya. Hufh, untuk apa aku memikirkannya.
Akhirnya angkutan kota yang sejak, 23 menit yang lalu aku tunggu terlihat. Aku berdiri, dan melangkah dengan perlahan hingga ke pinggir jalan. Tanganku lambaikan agar supirnya dapat meilhat aku sebagai penumpang yang akan memberikan rejeki untuknya. Wah sedikit penih nih, pikirku saat melihat ke dalam angkutan yang akan mengantarkanku ke tempat tujuanku. Aku memilih duduk di dekat jendela belakang, tepat di depanku ada seorang bapak yang sedang membaca Koran. Mataku melihat kolom Koran yang begitu menarik. Tertulis “Anak SMP Tertangkap di Kamar Hotel.” wah berita apalagi ini. Gila, ternyata anak SMP itu perbuatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Hanya untuk membeli HP terbaru yang bisa membawanya ke pergaulan modern saat ini. Ia rela menjual kehormatan diri, dan alasan kenapa ia melakukan semua itu, karena ketidak mampuan orang tua untuk memenuhi keinginannya. Lebih gila lagi, teman sebangkunya yang mengenalkan ia dengan lelaki tua yang membawa dirinya ke hotel tersebut. Waduh, apakah moral anak muda di kota, di negeri kami ini sudah rusak. Aduh, kenapa aku lupa. Jangan, jangan cewek yang tadi naik mobil bersama orang tua itu juga akan melakukan hal yang sama.
Kenapa juga pikiranku tertuju kepada cewek itu. Apa peduliku, aku tidak kenal sama dirinya, dan juga siapa aku baginya. Di saat pikiranku masih saja tertuju kepadanya, angkutan kota yang aku naiki berhenti. Seorang cewek yang berwajah tidak terlalu cantik, tapi menarik karena alisnya yang tebal naik. Ia duduk di sebelahku, Mayang Lestari namanya, aku bisa tahu karena namanya ada di seragam sekolah yang dipakainya. Nama yang indah, cocok sekali, kesempatan nih pikirku. Apalagi tempat tujuanku masih sedikit jauh. Aku beranikan diri untuk menyapanya, tanpa peduli dengan penumpang lainnya.
“Hei, apa kabar?” tanyaku.
“Baik.” jawabnya merdu sekali.
“Kamu Mayangkan?” tanyaku pura-pura mengenalnya.
“Tahu dari mana?” katanya.
“Itu dari nama yang ada di bajumu. Namanya bagus lho. Aku suka.” terangku kepadanya.
“ooo… kalo gitu curang donk. Kamu tahu namaku, tapi aku engga.” rengeknya.
“Namaku, Ical.” jawabku tegas, dan tersenyum.
“Ical ya, kamu mau kemana?” tanyanya.
“Aku mau ke ‘Cakra Ilmu’ itu tempat buat nambah beban otakku. Di sekolah padahal dah belajar nih, tapi masih butuh juga sih nambah-nambah kepinteran. Kita kan harus bisa jadi orang pinter, iya ga.” Aku memberikan penjelasan kemana tujuanku.
“Wah sama donk. Aku juga mau ke sana. Asyik nih, belum masuk dah dapet kenalan cowok ganteng.” balasnya, sambil melirik kepadaku.
Baru kali ini ada pujian ganteng bagiku. Bisa besar kepala nih. Biarin ah, kapan lagi ada pujian seperti ini.
“Nah itu tujuan kita. Bang kiri…,” kataku, dan meminta supir untuk berhenti. Aku biarkan Mayang turun terlebih dahulu, girls first deh pokoknya. Sebelum Mayang mengeluarkan uang, cepat sekali tanganku memberikan selembar, 10 ribuan kepada Bang supir. Mulutku langsung saja berkata “Dua Bang.” waduh…, padahal ga ada nih niat untuk mengongkosi Mayang. Tapi ga masalah deh, siapa tahu Mayang akan tertarik kepadaku. Sekilas lirikan mataku melihat senyum Mayang.
“Terima Kasih Cal.” katanya.
Aku membalas senyumnya, dan “Ga masalah, yuk…, kita masuk.” ajakku.
Umurku menginjak,15 tahun, tapi baru kali ini bisa berjalan berdua saja dengan seorang cewek. Bukan aku tidak suka dengan mahluk yang bernama cewek, tapi aku terlalu sibuk belajar, dan bekerja. Pulang sekolah sih biasanya aku membantu ayah menjual baju di pasar. Kesibukanku itu yang membuat tiada kesempatan bagiku untuk jalan berdua dengan cewek. Hari ini semuanya berubah, Mayang mau berjalan bersamaku. Senang rasanya.
Selama di dalam kelas, otakku tidak dapat menerima pelajaran yang diberikan oleh pembimbing. Pikiranku penuh dengan bayangan Mayang, senyumnya, matanya, apalagi dengan alisnya itu. Kapan sih akan berakhir jam ini, aku ingin segera bertemu Mayang.
Penantian membosanku akhirnya berakhir. Bel tanda selesainya pelajaran berbunyi, tanganku sigap membereskan semua buku yang ada di atas mejaku. Kakiku cepat melangkah keluar, kebetulan kelas kami berbeda. Aku menunggu di depan kelas Mayang, 1 menit, 2 menit, 3 menit. Kemana Mayang, tidak ada sosoknya. Ruang kelasnya sudah kosong, tapi ia tidak ada. Aku berlari mengejar orang terakhir yang baru saja keluar kelas, aku tarik tanganya, dan memintanya berhenti.
“Non. Maaf, kenal ga sama Mayang?” tanyaku.
“Mayang Lestari ya?” dia malah kembali bertanya kepadaku.
“Ya.” jawabku cepat.
“Tadi sih, sebelum kelas dimulai, Mayang mendapatkan telepon tuh. Lalu pergi, dan ga balik lagi.” terangnya.
“Kamu tahu kemana Mayang pergi?” tanyaku lagi.
“Ga tahu tuh. Tapi kayaknya sih…,” jawabnya sambil memotong pembicaraannya.
“Tapia pa?” tanyaku penasaran.
“Ga ah…, tar kamu tahu sendiri kok. Tapi kalo boleh kasih saran nih, jangan deket-deket sama Mayang deh!” perintahnya kepadaku.
“Emang ada apa dengan Mayang?” rasa penasaran membawaku kembali bertanya kepadanya.
“Cari tahu sendiri aja deh.” jawabnya, sambil melangkah pergi.
Aku tidak dapat mencegahnya. Ada apa ini, ada apa dengan Mayang, informasi yang aku dapat membuatku penasaran. Haruskah aku mencari tahu tentang diri Mayang yang sebenarnya. Tapi Mayang bukan pacarku, aku baru saja mengenalnya. Dengan langkah lesu, aku berjalan menuju halte yang terletak di seberang tempat bimbingan belajarku. Aku terkejut, di bawah halte itu terlihat sosok cantik bagaikan ‘Bidadari’ yang sepertinya sedang menunggu seseorang. Cewek berbaju hitam tadi, dia berdiri di sana. Secepat kilat aku menyeberang jalan, memastikan kali ini aku akan bisa mengenal siapa namanya. Amboy…, dia tersenyum kepadaku, sesaat aku berhasil menyebrang jalan. Cantik sekali ia waktu tersenyum.
“Wah…, kalo nyebrang lihat kiri-kanan donk. Masa sih harus terobos aja. Masih mending anak kecil tuh. Nanti kalo ketabrak siapa tuh yang rugi?” katanya tiba-tiba kepadaku, seakan-akan dia mengenalku.
“Abis buru-buru nih.” jawabku.
“Buru-buru, kenapa?” tanyanya kepadaku.
“Aku lihat ada bidadari yang baru turun dari langit nih.” jawabku seenaknya.
“Bidadari?” tanyanya dengan wajah keheranan.
“Iya bidadari. Sekarang lagi berdiri di depanku.” kataku menggodanya.
“Ha…, Ha…, Ha…, siapa aku? Bisa aja kamu. Oya namaku Febi, kamu siapa?” tertawanya begitu riang, dan dia memberikan tangannya sambil memperkenalkan namanya, dan menanyakan namaku.
“Aku Ical.” jawabku cepat.
“Kamu ambil tambahan belajar ya?” tanyanya lagi.
“Iya. Kalo kamu?” jawabku, dan tanyaku.
“Sama. Oya bukannya kamu yang tadi siang itu kan, kalo aku tahu, kita bisa bareng tadi.” katanya.
“Jangan dipikirin lagi.” kataku.
“Gimana kalo kita pulang bareng aja?” katanya menanyakan kesedianku untuk pulang bersama.
“Boleh aja, kalo ga keberatan. Lumayan uangnya bisa aku tabung nih.” jawabku dengan hati senang.
“Kata siapa? Bayar lagi. Ga ada yang gratisan di dunia ini.” jawabnya sambil sedikit menggoyangkan bahunya.
“Wah…, bayar ya.” jawabku pura-pura terkejut.
“Tenang aja lagi orang aku bercanda kok. Kita kan searah nih, kebeneran kita bisa bareng.” balasnya.
Kami berdua terlibat perbincangan yang cukup seru, saling menanyakan segala hobi, sekolah, dan lainnya. Febi begitu menikmati pembicaraan yang aku coba buat. Tidak terasa sudah cukup lama kami berdua berdiri, ia tampak cemas. HP yang ada di dalam tasnya dikeluarkan, dan ia meminta maaf kepadaku. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi karena kata ibu kalo orang itu harus pandai meminta maaf, dan member i maaf, ya aku maafkan saja. Lincah jarinya memencet tombol nomor, tak berapa lama ada suara di ujung telepon sana. Oh…, kiranya ia menelepon seseorang yang akan menjemputnya.
10 menit setelah Febi menelepon, mobil sedan hitam yang tadi aku lihat tampak berjalan perlahan menuju ke arah kami berdiri. Kami segera saja masuk ke dalam mobil, apalagi malam akan segera datang. Dan yang membuat aku terkejut, Febi duduk bersamaku di belakang.
“Cal…, kenalkan tuh…, Om Marwan. Dia supir keluargaku.” katanya memperkenalkan orang tua yang duduk di belakang kemudi. Oh…, ternyata orang tua yang kulihat tadi siang adalah supir keluarga Febi. Untung saja tadi aku tidak berpikiran buruk tentang Febi, ia ternyata cewek yang baik.
“Cal…, Cal…, kok bengong.” ucapan Febi membuat aku tersadar. Segera aku sodorkan tangan, dan menyebut namaku.
“Ical.” ucapku.
Perbincangan yang tadi sempat terputus kami lanjutkan. Terkadang om Marwan sekali-kali ikut masuk dalam pembicaraan kami. Om Marwan supir yang baik, ia begitu hormat kepada Febi, bahkan kepadaku juga. Oh ya, om Marwan memanggilku Den Ical. Ha…, Ha…, Ha…, orang aku tidak ada keturunan bangsawan kok dipanggil Den Ical.
Tidak terasa, karena saking mewahnya mobil yang aku naiki. Ditambah dengan AC yang dingin, aku tidak begitu memperhatikan jalan. Selain karena alasan tadi, aku juga begitu senang bisa berbincang dengan Febi, dan om Marwan. Halte tempat aku menunggu tadi siang telah tampak. Mobil berhenti tepat di halte yang memang selalu saja sepi. Aku segera turun dari mobil, dan mengucapakan rasa terima kasihku. Jalan kecil di belakang halte adalah jalan menuju ke rumahku, sedangkan Febi masih harus berjalan sedikit lagi. Jalan besar di sebelah jalan kecil menuju rumahku adalah rumahnya. Kebetulan sekali, letak rumah kami tidak terlalu jauh. Sebelum aku turun, Febi menawarkan diriku untuk ikut bersamanya jika mau ke sekolah, atau ke tempat bimbingan belajar kami. Dan sekali lagi kebetulan, sekolah Febi bersebelahan dengan sekolahku.
Hanya sebentar saja aku sempat beristirahat, saat ayah pulang dari pasar sambil membawa sekantong plastik yang cukup besar. Aku yakin yang ada di dalam plastik itu adalah baju. Benar saja keyakinanku, ayah meminta aku mengantarkan baju yang ada di dalam plastik itu ke rumah Bapak Toni. Bapak Toni mempunyai rumah yang besar, dan juga rumahnya berdekatan dengan rumah Febi. ia termasuk orang kaya yang sering membeli baju ke ayah. Sebenarnya apa yang aku lakukan pada saat mengantarkan pesanan Bapak Toni adalah hal yang salah. Karena rasa curigaku, aku beranikan diri untuk melihat isi kantong plastik yang ada di tangan kananku. Aku tahu isi di dalamnya adalah baju, tapi baju apa?
Baju cewek…, lho kok baju cewek…, bukannya Bapak Toni tidak mempunyai anak cewek. Pikiranku membawa kecurigian begitu besar dalam hatiku. Ya sudahlah, apa peduliku, tugasku hanya mengantarkan baju ini, dan menerima uang pembayarannya darinya. Biasanya ia akan memberikan kelebihan pembayarannya, dan uang lebih itu untuk kantongku. Ia merupakan teman lama ayah, jadi alasan kenapa ia sering membeli baju ke ayah, karena ia sudah berhasil, dan sukses dalam hidupnya. Prinsipnya menolong teman lama yang bagi mereka berdua seprti sebuah keharusan saja.
Itu rumahnya, pagarnya terbuka, berarti aku tinggal masuk saja. Aku pencet bel yang ada di dinding teras rumah. Tidak berapa lama aku dengar suara langkah kaki, dan pintu yang tertutup terbuka. Pak Toni tersenyum melihatku, dia mempersilahkan aku masuk, dan mengajakku duduk di ruang tamunya.
“Kantong itu pesanan Bapak ya, Cal?” tanyanya.
“Betul Pak.” jawabku. Aku serahkan kantong yang dari tadi ada di tanganku.
“Terima Kasih Cal. Sebentar ya…, Mayang…, Mayang…, kemari kamu!” suaranya membuat aku terkejut. Mayang, nama yang Aku kenal. Benar saja pikirku, Mayang tampak keluar dari kamar, dan dia terlihat lelah sekali.
“Ada apa sih Om…,” katanya manja sambil tangannya menggandeng mesra.
“Nih, kamu kan tadi minta dibelikan baju. Coba kamu lihat, dan pakai. Apa pantas untukmu!” perintah bapak Toni kepada Mayang.
“Makasih Om…, tapi Mayang mau ditemani sama Om…,” katanya lagi manja, dan matanya melirik kepadaku. Mereka berdua segera masuk ke dalam kamar, entah apa yang mereka lakukan aku tidak tahu. Bapak Toni memang hidup sendiri saja di rumah ini, istrinya sudah lama meninggal, anak pertamanya sudah menikah, dan anak bungsunya pergi kuliah ke Austria. Jadi itulah yang menyebabkan ia hidup sendiri. Tidak berapa lama, mereka berdua keluar dari kamar, wajah mereka terlihat gembira. Bapak Toni mengantarkan Mayang hingga ke pintu, dan aku melihat tangannya memberikan amplop putih yang aku tidak tahu apa isinya. Hanya pikiranku yang berkata bahwa itu adalah uang. Sebelum pintu terbuka, mereka berbicara sebentar.
“Mayang…, besok kamu datang lagi ya! Om akan memberikan lebih banyak lagi uang yang kamu butuhkan. Semoga uang itu bisa menambah uang sekolah kamu, dan biaya operasi ibu kamu.” ucapnya kepada Mayang.
“Lihat besok saja ya Om. Mayang pulang dulu ya.” jawabnya.
Bapak Toni menganggukan kepala, dan mencium kening Mayang. Semua ini mereka lakukan di depan mataku tanpa rasa malu sedikitpun. Mayang pura-pura tidak mengenalku,gila apakah dunia ini sudah gila. Bapak Toni menghampiriku, ia membayar pesanannya, dan berpesan kepadaku agar tidak menceritakan hal ini kepada kedua anaknya, serta orang lain. Sebagai jawaban, aku hanya diam.
Aku meminta ijin kepadanya, dan berjalan pulang dengan pikiran yang berkecamuk. Hatiku berperang, berdebat, dan berpendapat. Langkah kakiku berjalan perlahan,dan sepanjang jalan pikiran tentang apa yang kulihat terus saja mengganguku.
Cewek yang pertama kali aku berjalan bersamanya, ternyata hanyalah cewek yang sama dengan berita yang aku baca tadi. Padahal aku sudah begitu mengharapkan mengenalnya lebih jauh lagi. Kenyataannya aku tertipu, apakah ini yang dimaksud oleh cewek yang aku temui di tempat bimbingan belajarku. Mayang…, kau menipuku…, kau hancurkan harapanku…, aku sempat berpikir kau adalah gadis yang baik…, tapi apa kenyataannya. Febi…, sempat aku berpikir kau adalah gadis yang buruk…, tapi aku salah.
Ada apa dengan dunia ini, bukankah seharusnya kami yang masih teramat muda ini disibukan dengan belajar, belajar, belajar. Bukan melakuakan perbuatan yang hina, dan merugikan kami. Apakah kembang kota tidak diperbolehkan mekar dengan sempurna, dan dipetik saat ia sudah pantas dipetik. Kenapa sekarang, saat kembang itu belum mekar dengan baik, kembang yang masih perlu diberi air, pupuk, dan penjagaan. Kenapa harus diminum madunya…, kenapa? Kenapa tidak biarkan kembang itu bermandikan cahaya matahari, bermandikan embun pagi tanpa harus tercabut dari tangkai, dan akarnya. Gila…, siapakah yang gila. Bapak Toni, dan Mayang, gadis SMP itu, dan lelaki di dalam hotel, atau ‘AKU’
Mayang alasan apapun yang kamu lakukan, maafkan aku. aku tidak dapat membenarkannya, aku tidak dapat berkata tindakanmu benar. Biarkan…, biarkan…, biarkan Sang Pencipta yang akan memberikan penilaiannya. Tapi aku hanya berkata…, berhentilah Mayang, berhenti, dan cukup kau nistakan kehormatanmu.
Label: Cerpen 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
