Minggu, 18 April 2010

Catatan kecil orang yang terbuang

Minggu, 18 April 2010




Menjadi orang buangan atau terbuang adalah hal yang sangat menyakitkan. tapi, ini kadang terjadi pada diri kita. padahal, kita sudah berusaha untuk menjadikan diri, tindakan atau perbuatan kita untuk menyenangkan orang lain.

sayangnya, terkadang hal itu masih saja dianggap kurang oleh sebagian orang. terasa menyakitkan memang. namun, apa yang harus kita lakukan. menangis? huh ... lupakan saja cara bodoh ini. melawan? hmm ... mampukan kita jika kekuatan tidak bersama kita. jadi, harus bagaimana. mungkin sebuah cara yang dianggap terlalu tua, terlalu baik bagi diri kita, yaitu bersabar dan pasrah diri. hei ... tapi ingat! dengan bersabar dan pasrah diri segala kebaikan itu akan datang pada kita. percayalah! mungkin bukan di sini tapi nanti di sana. mereka yang mau bersabar itu adalah orang-orang pilihan, mereka yang bisa pasarah diri adalah orang-orang yang dicintai. but ... ini masih kurang belom cukup. selain itu, kita harus tetap berjuang, berdoa dan yang terutama mendoakan mereka yang menggangap kita kurang dengan hal-hal yang baik.

entahlah ... namun ini apa yang dikatakan oleh seorang tua padaku.

0 komentar

Rabu, 31 Maret 2010

Cinta Terlarang

Rabu, 31 Maret 2010





Jatuh cinta berjuta rasanya, tapi ini bukan bagian dari lirik lagu lho. Memang saat kita jatuh cinta akan datang berjuta-juta rasa yang tidak bisa diungkapkan. Hingga kadang-kadang kita berani melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan cinta yang kita mau.

Cara yang dilakukan bisa jadi cara yang teramat baik atau manis, bisa juga kita melakukannya sambil mengikuti waktu dan terkesan alami, tapi hal yang membahayakan kita bisa melakukan cara yang bisa dianggap kejam, jahat atau menghalalkan segalanya.

Tak jarang cara yang kita gunakan itu bisa menjadi senjata makan tuan bagi diri kita sendiri. Hubungan itu tidak direstui, penuh gejolak dan sebagainya.

Hubungan asmara itu bukankah sebaiknya saling menghormati dan menjaga kesucian hati dan diri. Jadi, kenapa juga kita harus terjebak dalam cinta yang terlarang. Jika kita benar-benar mencintai pasangan kita maka kita harus berani menolak ajakan yang tidak baik.

Mengorbankan diri untuk cinta yang berbalut hawa nafsu adalah kerugian, jangan deh yang ada nanti nyesel sendiri.

0 komentar

Mak Irah





Mak Irah menhembuskan nafasnya. Ia sedang berada di sebuah pondok kecil di tepi sawah yang harus dijaganya. Masa panen hampir tiba, padi-padi yang menguning akan menjadi santapan empuk burung-burung. Mak Irah dengan tangan kurusnya menarik tali temali yang mengikat boneka sawah agar bergerak. Boneka sawah itu akan mengusir burung-burung yang berani datang mendekat tanpa Mak Irah harus turun dan menghela mereka dengan tubuhnya.

Hampir sepanjang hari di waktu siang, Mak Irah berjuang mempertahankan hidupnya dengan menjadi buruh tani bagi Juragan Anton. Sudah sekitar 30 tahun Mak Irah menjadi anak buah Juragan Anton yang terkenal loyal dan baik hati pada semua orang tapi pelit pada Mak Irah.

Perubahan sikap juragan Anton dimulai 5 tahun lalu, anak gadis Mak Irah yang bernama Santi ingin dipersuntingnya. Namun Santi menolak dengan alasan tidak mau menjadi istri yang ke-4 Juragan Anton. Mak-nya sudah berusaha membujuk dengan berbagai cara tapi tetap tidak diidahkannya. Puncaknya Santi keluar dari rumah sempit yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ditinggalkannya Mak Irah dalam kesepian dan kesedihan.

Mak Irah termenung saat mengingat kepingan masa lalunya yang begitu mengharu-biru hidupnya. Ia tidak bisa menyalahkan Santi, Juragan Anton pun tiada sanggup ia salahkan. Mak Irah hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa memberi pengertian yang cukup untuk Santi.

Wajah Mak Irah begitu sendu, awan hitam terlihat bergelayut manja di sinar matanya. Rona gelap raut mukanya tidak bisa disembunyikan walaupun ia tersenyum. Itulah yang membuatku sering mengunjunginya seminggu terakhir ini.

Seminggu yang lalu, aku baru saja menjejakkan kakiku di kampung di mana Mak Irah tinggal. Perjalananku kemari bukan bermaksud mengunjungi keluarga atau temanku, sebatas berpetualangan saja. Ketika itu aku melihat Mak Irah yang sedang duduk bertopang dagu. Matanya terlihat mengantuk tapi dirinya tidak. Dipaksakannya dirinya terus berjaga agar burung-burung tidak mempunyai kesempatan berpesta pora.

Karena melihat semangat Mak Irah, aku memutuskan mendatanginya. Sekedar bertegur sapa dan siapa tahu aku bisa menginap di rumahnya, itu pikirku awalnya.

“Selamat siang, Mak …,” sapaku sopan.

“Si … siang,” jawabnya terkejut.

“Mak sendiri saja? Kemana yang lain?” tanyaku.

“Kamu siapa, Nak? Mak tidak kenal kamu?” tanyanya balik tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku garuk-garuk kepala, betapa bodohnya aku tidak memperkenalkan nama terlebih dahulu.

“Aku Abdi, Mak. Mak sendiri siapa namanya?” tanyaku kembali sambil menyodorkan tangan.

“Irah … panggil saja Mak Irah!” ucapnya pelan sambil menggengam tanganku. Tangannya dingin sekali.
“Mak Irah sakit, ya?”

“Tidak,” jawabnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.

“Tapi tangan Mak dingin sekali,” ucapku penasaran.

“Tangan dingin ini tidak seberapa, Nak Abdi. Dinginnya hati ini yang begitu menyiksa,” tuturnya dengan wajah yang tertunduk.

“Kenapa Mak? Bolehkah Abdi mendengarnya!” mintaku.

Mak Irah menatapku dengan bola matanya yang menampakan rasa penasaran dan ketidaksukaannya.

Aku yang baru dikenalnya berani meminta ia bercerita tentang masa lalunya. Berani sekali.

“Mak tidak usah takut! Abdi bisa menjaga rahasia itu.”

“Benarkah?”

Aku tersenyum dan menyentuh lembut tangan tua itu.

“Dengarlah…! Hati Mak begitu dingin sejak kepergian anak Mak satu-satunya, Santi. Dia pergi begitu saja tanpa mau membawa Mak-nya ini ikut serta. Hingga Mak harus seperti ini, dipandang hina dan rendah oleh orang lain.”

Mak Irah menghela nafasnya lalu ia menatapku memastikan apakah aku tertarik mendengar ceritanya atau tidak.

“Sampai sekarang, Mak sama sekali belum mendapatkan kabar darinya. Sepucuk surat atau salam tiada pernah datang. Sudah lima kali lebaran dia tidak pernah mengunjungi Mak, bersimpuh dan memohon ampunan. Mak rindu dengan kehadirannya, senyumnya dan tawanya.”

“Kenapa Santi pergi meninggalkan Mak?’

“Dia tidak mau Mak nikahkan dengan Juragan Anton pemilik sawah ini.”


Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tega sekali anak itu, gadis itu, Santi. Dia meninggalkan Mak-nya sendirian dalam ketidakpastian.

“Lalu apa yang diperbuat oleh Juragan Anton, Mak?”

“Hehehe … dia … dia … dia marah. Tapi dia masih mau memperkerjakan Mak di sini tanpa adanya kenaikan upah.”

Mak Irah menatap langit yang mulai menghitam sesaat ia menutup ceritanya.

“Kejam sekali, kenapa dia melakukan itu Mak?’

“Karena dia yang mempunyai uang, dia yang berkuasa di sini. Namum … dia tidak akan pernah menguasai hidup Mak. Karena hidup dan nafas Mak hanyalah punya Sang Kuasa, Sang Pencipta.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapan Mak yang terakhir itu.

“Nak Abdi, hari sudah sore. Mak harus segera pulang. Kamu mau ke mana?”

“Aku tidak tahu Mak. Aku harus tidur di mana. Rencananya aku ingin tidur di rumah Mak, tapi Mak hidup sendirikan. Abdi tidak berani, Mak.”

Mak Irah memandangku. Wajah kelamnya tersenyum lalu helaan nafas diikuti oleh ucapannya.

“Benar sekali, Nak Abdi. Kamu tidak boleh tidur di rumah Mak. Karena tidak ada sosok lelaki pun di rumah. Bagaimana kalo kamu tidur di mushola kampung ini saja?”

“Iya, Abdi baru saja berpikir seperti itu Mak. Tunjukan Abdi mana jalannya Mak!”

Akhirnya kami meninggalkan pondok di tepi sawah dan berjalan menjauh. Rumah Mak Irah tidak jauh dari sawah tempat dia menggantungkan hidup, tapi karena ia mau mengantarkan aku maka kami terus berjalan. Setelah mushola terlihat, Mak Irah meninggalkanku sendiri.

Semenjak itulah kami sering berbicara panjang lebar. Tentang kehidupan Mak Irah, tentang kehidupanku dan yang paling mengesankan tentang petuah-petuah bijaknya. Aku sangat senang dengan satu petuahnya, “Hidup ini bagaikan kepingan kaca yang berserakan. Jika kamu bisa menyatukannya maka hidupmu akan dibayangi oleh beragam kesuksesan. Jika kamu masih belum bisa berusahalah. Jangan tinggalkan kepinganmu di tempat di mana kamu menginjaknya. Jika sudah tidak lagi dipergunakan kepingan itu, buanglah sejauh mungkin hingga kamu tidak lagi mengingatnya.” Entah apa arti petuah itu, tapi aku suka sekali.

Sore itu, di mana aku belum sempat menemui Mak Irah di siang hari karena kebetulan aku membantu membersihkan mushola. Setelah selesai secepat kilat aku berlari ke tempat pertemuanku dengan Mak Irah. Sayangnya aku datang terlambat. Saat aku sampai Mak Irah melambaikan tangannya ke arahku bukan memanggilku lebih tepat lambaian itu seperti mengucapkan selamat tinggal. Mak Irah tersenyum manis sekali bersama wajahnya yang bersinar begitu cerah.

Aku percepat langkahku mengjenguknya lalu…

Tubuh tua Mak Irah berguncang, ia berteriak, “Allahu Akbar.”

Perlahan-lahan, mata tuanya menutup, hembusan nafasnya berhenti, detak jantung tiada terdengar. Aku berlari mengejar agar tubuhnya tidak jatuh ke atas bumi. Mak Irah meninggalkanku, meninggalakan berjuta kenangan dan petuangnya bagiku.

***

Malam itu aku menceritakan pengalamanku berada di kampung Mak Irah pada pacarku, Ranti. Gadis yang aki cintai tapi aku tidak tahu darimana asal-usulnya. Namun yang menjadi pertanyaanku, Ranti menangis sesaat aku selesai bercerita, bukan hanya menangis biasa saja. Tapi dia berteriak-teriak bagaikan orang gila. Apakah Ranti itu Santi?

0 komentar

Rabu, 24 Maret 2010

5 Cara Mudah Menghilangkan Stress

Rabu, 24 Maret 2010


Siapa bilang remaja seusia kalian tidak bisa terkena stress, depresi atau keputus-asaan. Hal yang wajar banget, lho. Karena dalam hidup ini, ada aja yang menjadi hambatan atau masalah pribadi. Ambil contoh, saat kamu dimarahin oleh Ortu padahal kamu nggak salah, pekerjaan rumah yang menumpuk, sulitnya mengerti pelajaran and so much things that make you get the problem.
Di bawah ini, kamu bisa lihat pembahasan singkat tentang cara-cara menghilangkan stress. Lets we look, yuk…

Tarik Nafas
Saat kamu merasakan stress mulai datang, tariklah nafas perlahan-lahan dua atau tiga kali. Hal ini bisa membawa pasokan oksigen ke otak kamu sambil bayangkan dirimu sebuah balon yang butuh udara, lalu hembuskan secara perlahan. Dengan melakukan ini, hormon stress dan kegugupanmu bisa berkurang.




Berpikir Hal Positif
Pikirkanlah beberapa hal yang bersifat positif waktu kamu stress. Katakan, betapa beruntungnya kamu masih bisa hidup, betapa kamu bisa melakukan pekerjaan paling sulit sebelum ini, betapa indahnya alam ini dan lainnya sesuai pengalaman terbaik yang pernah kamu alami.
Slow Down (Pelan-pelan)
Saat kamu sedang diburu-buru oleh waktu, kebanyakan hal ini bisa membuat kamu stress, kan? So, berhenti sejenak lalu kerjakan saja secara perlahan-lahan. Cobalah untuk lebih teliti supaya terhindar dari kesalahan mendasar dan jika bisa, kamu kerjakan jauh sebelum waktunya datang.
Ubah Sudut Pandang / Jalan Pikiran
Rencana yang kamu pikirkan dan lakukan saat ini ternyata tidak berhasil. Nah, waktunya untuk merubah semua itu. Pikirkan kembali cara terbaru, cari kesalahanmu dan lepaskan semuanya dengan melakukan hal yang benar-benar baru. Untuk berikutnya, selalu siapkan rencana cadangan.
Biarkan Saja
Kenapa harus tetap kamu rasakan stress itu? Biarkan saja, lepaskan beban stress pikiran dan tubuhmu menjauh. Berteriaklah lalu tinggalkan masalah itu di belakangmu.

Semoga beberapa cara dan penjelasan singkat ini bisa bermanfaat bagimu, ya. Hingga peluangmu untuk menyalahkan diri sendiri atau orang lain bisa berkurang, tuh. Di tambah ketika stress itu datang, kamu bisa menghilangkannya sendiri. Perkuat dirimu dengan mengalahkan kelemahan dirimu.*

0 komentar

Aku Kalah






Aku kalah...

bisa saja, bagi mereka
tapi di hatiku?

Aku menangis...

mungkin saja, di mata mereka
tapi kenyataannya?

Hahaha...
bisa saja kalian aku berbohong pada diriku sendiri
tapi tahukah kalian? bisakah kalian?
tahu kematianku? apa yang akan terjadi padaku esok?
tidak bukan

Jadi berhenti berkata buruk tentangku
lebih baik kita saling memberikan saran
bertukar pikiran
berdiskusi bukan berdebat
maukah kamu?

0 komentar

Jujur, Benar dan Adil






Bohong...
dimana suara manismu itu
yang membuai angan
dengan harapan yang besar

Jujur...
kau bilang itu semua kejujuran
tapi mana buktinya
yang ada semuanya berubah

mereka yang didekatmu
berubah dari tidak punya menjadi besar
sedangkan yang jauh darimu
semakin tenggelam dalam kehancuran

benarkah...
benarkah katamu itu
kata yang mengharu biru
penuh dengan keluh kesah yang manis

tapi...
senyummu palsu
bukannya memberikan kenyamanan
tapi malah kau membela mereka

mereka yang dekat padahal bersalah
kau lindungi dengan tetesan air matamu
mereka yang jauh kau lupakan
bahkan kau tendang dan penjarakan

adil...
kau selalu berkat apa yang dilakukan untuk keadilan
bagi siapa?
untuk siapa?

adil buatmu itu hanya kesemuan bukan?
karena kau membela mereka
mereka yang memberikan pukulan
pada sekumpulan manusia yang terhinakan

adilkah jika kau memenjarakan
menaruh banyak orang di kotak yang terbungkus tiang besi
orang-orang yang tidak bersalah terhukum berat
mereka yang bersalah terhukum ringan.

0 komentar

Kamis, 18 Maret 2010

Anak Kecil & Lelaki (Bapak & Suami)

Kamis, 18 Maret 2010





seorang anak kecil bermain di depan halaman rumah, tampak begitu gembira. Hingga datang seorang lelaki berusia kira-kira 30 tahun mendatangi halaman. Anak yang sedang asyik bermain itu berhenti, saat melihat kedatangannya.

Lelaki itu duduk di sebuah batu besar di bawah pohon belimbing. Anak yang tadi bermain, kini berjalan menghampirinya. Perlahan tapi pasti, anak itu mulai mendekat pada diri lelaki yang tampak lelah. Wajah lelaki itu tertutup oleh debu dan bajunya kusam lusuh.

Anak kecil itu tampak tidak canggung. Keberaniannya mendatangi lelaki yang tidak dikenalnya, karena baru pertama kali ini bertemu mengapungkan tanda tanya. Apakah anak itu benar berani atau hanya karena rasa penasarannya.

Semakin dekat, semakin jelas keletihan dari lelaki itu. Senyum yang keluar sepertinya hanya sebuah senyum pemanis biasa saja.

"Om, siapa? kenapa duduk di sana? Om, sepertinya letih?"

"Nak, aku hanya manusia yang sedang mencari. Tempat duduk ini masih lebih baik dari kursi yang ada di dalam ruangan. Om tidak letih, Nak."

"Om berbohong?"

"Apa? kenapa kamu bisa bilang Om berbohong, Nak?"

"Karena sebenarnya kursi yang ada di dalam ruangan itu adalah yang Om cari, kan? dan juga Om telah letih dalam berjuang, tapi tidak menemukan apa yang Om cari itu?"

"Oh... Katakan, Nak! apa maksud perkataanmu itu?"

"Sebelumnya, jawab pertanyaanku, Om! Apa yang Om cari? dan perjuangan apa yang telah Om berikan?"

"Om ini mencari apa yang dinamakan jalan menuju surga, Nak. Hingga Om rela meninggalkan semuanya. Anak-Istri, Om tinggalkan. Begitu juga harta kekayaan, Om. Om ingin apa yang dicari itu benar-benar datang karena perjuangan, Om sendiri."

"Wah... Om sudah gila, ya?"

"Gila...? kamu jangan buat Om bingung, Nak!"

"Iya, Om gila! Punya Anak-Istri tapi ditinggalkan begitu saja. Harta kekayaan, Om telantarkan begitu saja. Apakah itu bukan gila, Om?"

"Tidak, Nak. Om tidak gila. Ini perjuangan. Ini jalan yang Om yakini bisa memberikan Om jalan menuju surga. Karena kita kembali tidak membawa apa-apa, Nak."

"Aku setuju dengan apa yang Om katakan di akhir ucapan, Om. Tapi tidak yang pertama!"

"Kenapa? Apa yang kau ragukan?"

"Karena perjuangan Om yang sesungguhnya adalah mendidik Anak-Istri dengan ilmu yang bermanfaat. Bimbingan Iman yang bisa menambah keyakinan mereka atas apa yang Om yakini. Membelanjakan harta di jalan yang lebih baik. Coba bayangkan, Om! Apa yang mereka lakukan di sana, apa yang mereka kerjakan dengan harta yang Om tinggalkan?"

"Om tidak tahu."

"Ya, Karena Om bodoh. Buta oleh hawa nafsu sendiri yang menginginkan surga untuk diri sendiri. Apakah mereka akan rela jika hanya Om yang diberikan pintu surga. sedangkan mereka kehilangan arah dan pegangan mereka. Tidak, mereka akan meminta sebagian pahala yang Om miliki. Mereka akan berkata "Tidak Adil, Wahai KAU yang Maha Pengasih, Lelaki ini, Suami dan Bapak dari Anak-anakku hanya melakukan kewajibannya seorang diri saja. Tanpa mau memberikan kami sedikit Ilmu."

"Jadi apa yang harus Om perbuat, Nak?"

"Aku tidak tahu. Om yang lebih tahu mana yang terbaik. Keyakinan atas jalan yang Om tempuh ini atau Anak-Istri yang menunggu di rumah dengan doa mereka yang meminta perlindungan dan harapan pulangnya diri Om."

Lelaki itu tidak menjawab. Dia bangkit berdiri dan melangkah pergi. Kekerasan hatinya telah dikalahkan oleh seorang anak kecil. Apakah dia harus kembali? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Sedangkan, dia sudah mengatakan pada Anak-Istrinya bahwa dia akan pergi dalam waktu yang lama. Mencari jalan surga tapi melupakan kewajibannya sebagai Suami dan Bapak.

Anak kecil itu kembali bermain dengan asyiknya sepeninggalan lelaki itu.

0 komentar